Vendor Cirebon - Arsyafin Production

Warga Mulai Soroti Proyek Data Center AI, Benarkah Bisa Sedot Banyak Listrik dan Air?

JAKARTA – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa peluang besar bagi ekonomi digital Indonesia. Namun, di balik kemampuan AI memproses data dalam jumlah sangat besar, muncul persoalan lingkungan yang semakin sulit diabaikan: berapa besar listrik dan air yang dibutuhkan untuk menjalankan pusat data AI?

Pertanyaan tersebut kini menjadi perhatian publik seiring bermunculannya rencana pembangunan data center berskala besar di Indonesia. Sejumlah proyek bahkan dirancang dengan kebutuhan daya hingga ratusan megawatt.

Media Ketik.com melaporkan adanya perhatian dan penolakan masyarakat terhadap sejumlah proyek data center AI karena kekhawatiran terhadap konsumsi listrik dan air. Dalam laporan tersebut, Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia Prof. Agustino Zulys menjelaskan bahwa proses komputasi AI menghasilkan panas sehingga pusat data membutuhkan sistem pendinginan. (Ketik)

Persoalannya kemudian bukan sekadar “AI membutuhkan air atau tidak”, melainkan bagaimana memastikan pertumbuhan industri digital tidak menciptakan tekanan baru terhadap sumber daya air, sistem kelistrikan, lingkungan dan masyarakat sekitar.


Data Center AI Bukan Hanya Membutuhkan Listrik

Selama ini masyarakat mungkin lebih sering mengaitkan pusat data dengan konsumsi listrik.

Hal tersebut memang masuk akal.

Pusat data AI membutuhkan ribuan bahkan lebih banyak perangkat komputasi yang bekerja secara bersamaan untuk menjalankan model kecerdasan buatan. Semakin besar kapasitas komputasi, semakin besar pula kebutuhan energi dan panas yang harus dikelola.

Karena itu, listrik dan pendinginan menjadi dua persoalan yang saling berkaitan.

Ketika perangkat komputasi bekerja, energi listrik tidak hanya digunakan untuk melakukan proses komputasi, tetapi juga menghasilkan panas. Panas tersebut harus dibuang agar perangkat tetap beroperasi dalam kondisi yang aman.

Di sinilah air dapat berperan sebagai bagian dari sistem pendinginan pada jenis desain data center tertentu.

Prof. Agustino Zulys, sebagaimana dikutip Ketik.com, menjelaskan bahwa air digunakan bukan untuk proses komputasinya, melainkan sebagai bagian dari sistem pendinginan perangkat keras. (Ketik)

Namun, penting untuk memberikan konteks: tidak semua data center menggunakan air dengan jumlah yang sama. Konsumsi air sangat bergantung pada desain fasilitas, teknologi pendinginan, iklim, sumber air, tingkat pemanfaatan fasilitas dan efisiensi operasional.

Dengan demikian, angka konsumsi air sebuah proyek harus dilihat berdasarkan kajian teknis proyek tersebut, bukan digeneralisasi kepada seluruh pusat data AI.


Data Center 640 MW di Jatiluhur Jadi Contoh Besarnya Skala Proyek

Salah satu contoh yang sedang menjadi perhatian adalah pembangunan pusat data AI milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas daya hingga 640 megawatt (MW).

Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemudian menghentikan sementara pembangunan proyek karena dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum diterbitkan. Proyek mulai dibangun pada 22 September 2026 dan penghentian dilakukan setelah inspeksi pemerintah daerah. (Antara News)

Dari perspektif lingkungan, keputusan tersebut menjadi penting karena AMDAL bukan sekadar dokumen administratif.

AMDAL seharusnya menjadi instrumen untuk mengetahui dampak suatu kegiatan terhadap lingkungan sekaligus menentukan langkah pengelolaannya.

Terlebih lagi, proyek dengan kebutuhan energi dan air sebesar itu memiliki potensi dampak yang lebih luas dibandingkan pembangunan fasilitas digital berskala kecil.


Kebutuhan Air Bisa Mencapai 33 Ribu Meter Kubik per Hari

Salah satu angka yang paling banyak mendapat perhatian adalah proyeksi kebutuhan air data center AI BDx di Jatiluhur.

Berdasarkan data teknis yang disampaikan pemerintah dan diberitakan ANTARA, kebutuhan air proyek tersebut diproyeksikan mencapai 384 liter per detik, atau sekitar 33.000 meter kubik per hari ketika beroperasi pada kapasitas penuh.

Pada tahap awal, kebutuhan air disebut sekitar 6.000 meter kubik per hari. (Antara News)

Jika angka 33.000 meter kubik per hari digunakan sebagai ilustrasi dan berlangsung selama satu tahun penuh, volumenya mencapai sekitar:

33.000 × 365 = 12.045.000 meter kubik per tahun.

Angka tersebut menunjukkan mengapa konsumsi air menjadi bagian penting yang harus dikaji sebelum fasilitas beroperasi penuh.

Namun, angka tersebut merupakan proyeksi pada kondisi kapasitas penuh, bukan berarti setiap hari sejak awal operasional proyek pasti menggunakan air sebanyak itu.


Mengapa Air Jatiluhur Menjadi Perhatian?

Persoalannya bukan hanya jumlah air yang digunakan.

Yang jauh lebih penting adalah dari mana air tersebut diambil dan untuk kepentingan apa saja sumber air itu sudah dialokasikan.

Waduk Jatiluhur mempunyai fungsi strategis bagi kawasan Jawa Barat, termasuk mendukung kebutuhan air baku, irigasi dan berbagai kepentingan masyarakat.

Karena itu, penggunaan air untuk industri baru harus dihitung bersama kebutuhan yang sudah ada.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta kajian teknis proyek dibuka secara transparan serta meminta adanya koordinasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) II dan PDAM Purwakarta agar pasokan air untuk masyarakat dan sektor pertanian tidak terganggu. (Antara News)

Ini merupakan poin penting dalam perspektif lingkungan.

Persoalannya bukan apakah investasi boleh menggunakan air, melainkan apakah penggunaan tersebut sudah dihitung secara adil, berkelanjutan dan tidak mengorbankan kebutuhan masyarakat.


Data Center dan Petani: Jangan Sampai Terjadi Perebutan Air

Dalam pembangunan industri, konflik sumber daya sering kali muncul bukan karena sumber daya sama sekali tidak tersedia, tetapi karena alokasi dan distribusinya tidak seimbang.

Data center membutuhkan air.

Petani membutuhkan air untuk irigasi.

Rumah tangga membutuhkan air bersih.

Industri lain juga membutuhkan air.

Karena itu, pemerintah harus memastikan adanya prioritas dan mekanisme perlindungan terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Institute for Essential Services Reform (IESR) bahkan meminta agar kajian dampak sosial-lingkungan proyek Jatiluhur melibatkan masyarakat terdampak, termasuk petani pengguna irigasi Jatiluhur. Lembaga tersebut juga meminta kajian mengenai dampak kebutuhan listrik data center terhadap sistem kelistrikan serta akses pelanggan PLN dibuka kepada publik. (IESR)

Pendekatan seperti ini penting karena dampak lingkungan tidak selalu terlihat dari pagar proyek.

Sebuah proyek dapat berdiri di lahan industri, tetapi kebutuhan air dan listriknya dapat memengaruhi wilayah yang jauh lebih luas.


Listrik 640 MW Juga Bukan Angka Kecil

Selain air, konsumsi listrik data center AI perlu mendapatkan perhatian yang sama.

Proyek BDx di Jatiluhur dirancang mencapai 640 MW.

IESR menghitung bahwa jika beban 640 MW beroperasi penuh sepanjang tahun, konsumsi listriknya secara kasar dapat mencapai sekitar 5,6 terawatt-jam (TWh) per tahun. (IESR)

Angka tersebut memperlihatkan skala energi yang dibutuhkan pusat data berkapasitas besar.

Dalam perspektif kebijakan energi, pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya “apakah listriknya tersedia?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

  • Dari pembangkit mana listrik tersebut berasal?

  • Apakah sistem transmisi mampu menanggung tambahan beban?

  • Berapa besar cadangan daya yang tersedia?

  • Apakah diperlukan pembangunan gardu atau jaringan baru?

  • Bagaimana dampaknya terhadap keandalan listrik pelanggan lain?

  • Bagaimana jejak emisi listrik yang digunakan?

  • Siapa yang menanggung biaya penguatan infrastruktur kelistrikan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia secara bersamaan mendorong digitalisasi, industrialisasi dan transisi energi.


Fenomena Ini Tidak Hanya Terjadi di Jatiluhur

Jatiluhur merupakan salah satu contoh, tetapi bukan satu-satunya.

Laporan Ketik.com mencatat sepanjang 2026 terdapat sejumlah rencana pembangunan data center berskala besar di Bekasi, Batam, Purwakarta, Cikarang dan Bintan.

Beberapa proyek bahkan dirancang memiliki kapasitas ratusan megawatt hingga potensi pengembangan mencapai gigawatt. (Ketik)

Artinya, persoalan lingkungan akibat ekspansi data center AI sebaiknya tidak dilihat sebagai persoalan satu proyek.

Indonesia perlu mulai memikirkan kebijakan nasional mengenai data center berkelanjutan.

Jika setiap proyek dinilai sendiri-sendiri tanpa melihat dampak kumulatif, ada risiko pemerintah hanya melihat kapasitas masing-masing proyek, sementara tekanan gabungan terhadap air dan energi tidak terlihat secara utuh.


Batam Juga Menghadapi Tantangan Sumber Air

WALHI menyoroti persoalan serupa di Batam.

Menurut WALHI, ekspansi pusat data di Batam berpotensi meningkatkan tekanan terhadap Waduk Duriangkang, yang menjadi sumber utama pasokan air bagi penduduk Batam. Organisasi tersebut meminta pemerintah memberlakukan moratorium pembangunan data center AI sampai terdapat regulasi yang lebih kuat mengenai perlindungan sumber air dan lingkungan. (Walhi)

Pernyataan WALHI tersebut merupakan pandangan organisasi lingkungan, bukan kesimpulan hukum bahwa seluruh proyek data center pasti menyebabkan krisis air.

Namun, pandangan tersebut penting diperhatikan sebagai bagian dari perdebatan publik mengenai bagaimana Indonesia mengelola ekspansi industri digital.


Benarkah Satu Pertanyaan AI Menghabiskan Puluhan Mililiter Air?

Salah satu informasi yang menarik perhatian masyarakat adalah estimasi penggunaan air untuk setiap respons AI.

Ketik.com mengutip Prof. Agustino Zulys yang merujuk penelitian terkait konsumsi air model AI dan menyebut estimasi sekitar 50 mililiter air untuk satu respons pada konteks tertentu. (Ketik)

Angka seperti ini perlu dibaca secara hati-hati.

Tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap pertanyaan kepada semua layanan AI selalu membutuhkan tepat 50 mililiter air.

Konsumsi air sangat bergantung pada banyak variabel, antara lain:

  1. jenis model AI;

  2. panjang dan kompleksitas permintaan;

  3. perangkat keras yang digunakan;

  4. efisiensi data center;

  5. teknologi pendinginan;

  6. suhu dan kondisi iklim;

  7. sumber air;

  8. lokasi data center;

  9. tingkat utilisasi server;

  10. apakah air digunakan secara langsung, didaur ulang atau melalui sistem tertutup.

Karena itu, angka konsumsi air per respons lebih tepat dipahami sebagai estimasi berbasis kondisi tertentu, bukan meteran universal yang berlaku untuk setiap interaksi AI.


Mengapa Data Center AI Tetap Menarik bagi Indonesia?

Di sisi lain, pemerintah tentu memiliki alasan untuk mendorong investasi pusat data.

Indonesia sedang mengalami pertumbuhan ekonomi digital dan membutuhkan infrastruktur komputasi untuk mendukung berbagai layanan.

Data center dapat menciptakan:

  • investasi baru;

  • lapangan kerja;

  • kebutuhan tenaga profesional teknologi;

  • infrastruktur digital;

  • aktivitas ekonomi lokal;

  • peningkatan kapasitas komputasi nasional;

  • dukungan terhadap pengembangan AI dan layanan digital.

Karena itu, penolakan terhadap dampak lingkungan tidak otomatis berarti penolakan terhadap teknologi AI atau investasi digital.

Yang dibutuhkan adalah keseimbangan.

Investasi tetap dapat berjalan, tetapi harus memenuhi standar lingkungan dan sosial yang memadai.


Pakar Lingkungan: Investasi Hijau Harus Dimulai dari Desain

Dari perspektif lingkungan hidup, konsep yang seharusnya dikembangkan Indonesia bukan sekadar data center, tetapi green data center.

Artinya, sejak tahap desain, pengembang sudah memperhitungkan:

1. Efisiensi energi

Semakin efisien perangkat dan sistem pendinginan, semakin kecil energi yang diperlukan untuk menghasilkan kapasitas komputasi yang sama.

2. Efisiensi penggunaan air

Pengembang dapat mengevaluasi teknologi pendinginan yang membutuhkan lebih sedikit air atau menggunakan sistem closed-loop sehingga air dapat disirkulasikan kembali.

IESR secara khusus mendorong penggunaan sistem pendinginan tanpa air atau sistem sirkulasi tertutup agar kebutuhan industri tidak berkompetisi dengan kebutuhan air masyarakat dan pertanian. (IESR)

3. Energi rendah karbon

Sumber listrik data center juga penting.

Data center yang sangat efisien tetapi menggunakan listrik dengan intensitas emisi tinggi tetap memiliki jejak lingkungan yang besar.

4. Transparansi

Masyarakat perlu mengetahui kebutuhan air, listrik, emisi, limbah dan dampak sosial sebuah proyek.

5. Perlindungan sumber air

Sumber air yang digunakan industri tidak boleh mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat.


AMDAL Jangan Hanya Menjadi Formalitas

Salah satu pelajaran penting dari polemik Jatiluhur adalah posisi AMDAL.

AMDAL seharusnya bukan dokumen yang dikejar setelah konstruksi berjalan.

Idealnya, kajian lingkungan dilakukan sebelum keputusan pembangunan dilaksanakan sehingga pemerintah, masyarakat dan pengembang memahami risiko proyek sejak awal.

IESR menilai penghentian sementara proyek Jatiluhur harus digunakan untuk melakukan kajian secara menyeluruh, bukan sekadar mempercepat penerbitan izin. (IESR)

Perspektif tersebut sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan lingkungan.

Sebab, ketika sebuah data center telah berdiri dan beroperasi penuh, biaya sosial maupun ekonomi untuk mengubah sistem air, energi dan infrastrukturnya tentu jauh lebih besar.


Indonesia Membutuhkan Regulasi Khusus Data Center AI

Ekspansi AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan regulasi khusus yang mengatur dampak sumber daya dari fasilitas komputasi berskala sangat besar.

IESR menyebut Indonesia belum memiliki aturan khusus yang secara komprehensif mengatur kebutuhan air, energi, dampak kumulatif serta aspek sosial-lingkungan infrastruktur AI. (IESR)

Ini menjadi tantangan bagi pemerintah.

Regulasi ke depan idealnya tidak hanya menjawab:

“Apakah proyek ini boleh dibangun?”

Tetapi juga:

“Berapa banyak sumber daya yang boleh digunakan, dari mana sumbernya, siapa yang terdampak, bagaimana mitigasinya dan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi masalah?”


Jangan Sampai AI Menjadi Teknologi Canggih dengan Biaya Lingkungan yang Tersembunyi

Perkembangan AI tidak mungkin dihentikan begitu saja.

Teknologi ini akan terus berkembang dan kebutuhan terhadap komputasi kemungkinan semakin besar.

Karena itu, tantangan Indonesia bukan memilih antara AI atau lingkungan.

Pilihan yang lebih rasional adalah membangun sistem yang memungkinkan AI tumbuh tanpa mengorbankan lingkungan dan masyarakat.

Investasi triliunan rupiah memang dapat membawa manfaat ekonomi.

Namun, jika sebuah proyek menggunakan air yang seharusnya dibutuhkan masyarakat, menekan sistem kelistrikan, meningkatkan emisi atau menimbulkan kerusakan ekologis, maka sebagian biaya ekonominya sebenarnya hanya dipindahkan dari perusahaan kepada masyarakat dan lingkungan.

Dalam ekonomi lingkungan, persoalan seperti ini dikenal sebagai externality atau dampak eksternal.

Karena itu, biaya lingkungan harus diperhitungkan sejak awal.


Kesimpulan: Bukan Anti-AI, Tetapi Mendorong AI yang Bertanggung Jawab

Perdebatan mengenai proyek data center AI di Indonesia seharusnya tidak dipersempit menjadi pertarungan antara “pro-investasi” dan “anti-investasi”.

Ada jalan tengah yang lebih konstruktif.

Indonesia dapat menerima investasi digital sekaligus menetapkan standar lingkungan yang ketat.

Data center boleh tumbuh, tetapi sumber air harus terlindungi.

AI boleh berkembang, tetapi kebutuhan listrik harus direncanakan.

Investasi boleh masuk, tetapi AMDAL dan PBG harus dipenuhi sebelum pembangunan berjalan sesuai ketentuan.

Teknologi boleh semakin maju, tetapi masyarakat tidak boleh menjadi pihak yang membayar biaya ekologisnya.

Kasus Jatiluhur memberikan momentum bagi pemerintah untuk membangun standar baru.

Sebelum Indonesia menjadi salah satu pusat industri AI di Asia, pemerintah perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga hemat energi, hemat air, rendah emisi, transparan dan berkeadilan secara ekologis.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan transformasi digital bukan hanya seberapa banyak data yang mampu diproses mesin.

Ukuran keberhasilannya juga adalah seberapa baik manusia mampu memastikan teknologi tersebut tumbuh tanpa merusak sumber kehidupan yang menopangnya.


🔎 Artikel

Focus Keyword:
Data center AI Indonesia

Title:
Warga Soroti Data Center AI, Benarkah Bisa Sedot Banyak Listrik dan Air?

Meta Description:
Proyek data center AI di Indonesia disorot karena kebutuhan listrik dan air yang besar. Simak dampak lingkungan, kasus Jatiluhur dan solusi green data center.

Slug:
data-center-ai-indonesia-listrik-air-dampak-lingkungan

Kata Kunci Terkait:

  • data center AI Indonesia

  • konsumsi air data center

  • konsumsi listrik data center

  • data center Jatiluhur

  • data center Purwakarta

  • BDx Data Centers

  • AI dan lingkungan

  • dampak lingkungan AI

  • data center ramah lingkungan

  • green data center

  • AMDAL data center

  • kebutuhan air data center

  • kebutuhan listrik AI

  • Waduk Jatiluhur

  • proyek data center 2026

  • krisis air Indonesia

  • energi AI

  • investasi AI Indonesia

🏷️ Tag

Data Center AI, AI Indonesia, Data Center Indonesia, Jatiluhur, Purwakarta, BDx Data Centers, Lingkungan Hidup, AMDAL, Air Bersih, Krisis Air, Energi, Listrik, Green Data Center, Teknologi AI, Investasi Digital, Jawa Barat, Waduk Jatiluhur, Ekonomi Digital

#️⃣ Hashtag

#DataCenterAI #DataCenterIndonesia #AIIndonesia #ArtificialIntelligence #Jatiluhur #Purwakarta #BDxDataCenters #LingkunganHidup #AMDAL #AirBersih #KrisisAir #Energi #Listrik #GreenDataCenter #DataCenterHijau #TeknologiAI #InvestasiDigital #EkonomiDigital #WadukJatiluhur #JawaBarat #LingkunganIndonesia #SustainableAI #AIberkelanjutan

Catatan penting: angka konsumsi air seperti 384 liter/detik atau sekitar 33.000 m³/hari dalam artikel ini merujuk pada proyeksi teknis proyek BDx Jatiluhur pada kapasitas penuh, bukan konsumsi seluruh data center di Indonesia. Demikian pula estimasi penggunaan air per respons AI sangat bergantung pada model, perangkat keras dan sistem pendinginan sehingga tidak tepat diperlakukan sebagai angka universal. (Antara News)

Lebih baru Lebih lama

Hubungi Kami