JAKARTA — Ledakan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah peta industri pusat data di Indonesia. Kebutuhan komputasi AI yang semakin besar mendorong pembangunan fasilitas AI-ready data center dengan kapasitas listrik hingga ratusan megawatt bahkan berpotensi mencapai gigawatt.
Data terbaru menunjukkan sedikitnya 8 proyek atau fasilitas data center AI berskala besar tersebar di sejumlah kawasan strategis Indonesia, mulai dari Jawa Barat, Jakarta hingga Batam. Di balik peluang investasi dan transformasi digital tersebut, terdapat persoalan lingkungan yang tidak boleh diabaikan, terutama menyangkut konsumsi listrik, penggunaan air, panas, emisi, serta tata kelola pembangunan. (Bisnis.com)
8 Data Center AI Besar yang Berkembang di Indonesia
Berdasarkan laporan Bisnis.com, berikut delapan pusat data yang masuk dalam daftar fasilitas AI-ready berskala besar di Indonesia. (Bisnis.com)
1. AI Campus 2 (CGK4) – BDx Data Centers & Indosat
Proyek AI Campus 2 atau CGK4 milik BDx Data Centers bersama Indosat berada di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Fasilitas tersebut memiliki potensi kapasitas hingga 640 MW, dengan tahap awal sebesar 120 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026 atau 2027.
Besarnya skala proyek menjadikan CGK4 salah satu proyek yang paling mendapat perhatian publik, khususnya karena lokasinya berdekatan dengan sumber daya air Jatiluhur. (Bisnis.com)
2. Kampus H1 & JK6 – DCI Indonesia
PT DCI Indonesia Tbk (DCII) merupakan salah satu pemain utama industri data center nasional.
DCI mengoperasikan fasilitas di Cibitung dan Karawang dengan kapasitas operasional sekitar 128 MW. Perusahaan juga memiliki target pengembangan jangka panjang yang melampaui 300 MW. (Bisnis.com)
3. Edgnex DAMAC AI Data Center
Edgnex Data Centers by DAMAC dari Dubai turut masuk dalam peta ekspansi data center AI Indonesia.
Perusahaan tersebut memproyeksikan kapasitas hingga 144 MW melalui fasilitas yang dikembangkan di Jakarta dan Cikarang, Jawa Barat. (Bisnis.com)
4. NeutraDC Hyperscale Cikarang
Anak usaha Telkom Indonesia, NeutraDC, juga memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pusat data hyperscale.
Fasilitas NeutraDC di Cikarang dikembangkan menuju kapasitas penuh sekitar 121,5 MW. (Bisnis.com)
5. Princeton Digital Group (PDG) Cikarang
Princeton Digital Group atau PDG, penyedia infrastruktur hyperscale regional yang berbasis di Singapura, mengembangkan fasilitas di Cikarang dengan kapasitas total sekitar 120 MW.
Cikarang menjadi salah satu kawasan yang menarik karena kedekatannya dengan Jakarta sekaligus memiliki infrastruktur industri dan jaringan listrik yang mendukung pembangunan pusat data skala besar. (Bisnis.com)
6. CGK Campus – Digital Edge & Indointernet
Digital Edge bersama PT Indointernet Tbk (EDGE) mengembangkan CGK Campus di kawasan Cikarang/Bekasi.
Skala desain proyek ini mencapai 500 MW dan berpotensi ditingkatkan hingga 1 GW. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya kebutuhan infrastruktur komputasi AI berkembang. (Bisnis.com)
7. NeutraDC Nxera Batam
Di Batam, NeutraDC bersama Singtel dan Medco Power mengembangkan pusat data melalui konsorsium strategis.
Fasilitas di kawasan Kabil/Nongsa Digital Park tersebut memiliki total kapasitas sekitar 54 MW, dengan tahap awal sebesar 18 MW. (Bisnis.com)
8. Equinix JK1 AI-Ready Facility
Equinix bersama Astra International mengembangkan fasilitas AI-ready di Jakarta Pusat.
Tahap awal fasilitas tersebut memiliki kapasitas 2,4 MW dan dirancang untuk mendukung kebutuhan interkoneksi serta pemrosesan beban kerja AI. (Bisnis.com)
Mengapa Data Center AI Membutuhkan Energi Sangat Besar?
Perbedaan utama data center AI dengan pusat data konvensional terletak pada karakteristik beban komputasinya.
AI membutuhkan GPU dan akselerator komputasi berperforma tinggi. Perangkat tersebut menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga sistem pendinginan menjadi bagian yang sangat penting dalam desain data center.
Karena itu, pembangunan data center AI tidak cukup hanya berbicara mengenai gedung dan server. Infrastruktur harus mempertimbangkan listrik, pendinginan, air, jaringan transmisi, lahan, serta kondisi lingkungan sekitar.
IKTII bahkan menjelaskan adanya hubungan erat antara konsumsi energi dan penggunaan air dalam sistem pendinginan data center. Dalam sistem cooling tower standar, Ketua Umum IKTII Teddy Sukardi menyebut beban IT 10 MW dapat membutuhkan sekitar 500 meter kubik air per hari, meskipun kebutuhan aktual sangat bergantung pada teknologi dan arsitektur pendinginan yang digunakan. (Bisnis.com)
Artinya, angka konsumsi air tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh data center. Teknologi pendinginan, iklim, desain fasilitas, tingkat utilisasi server, serta sumber air akan menentukan kebutuhan sebenarnya.
Tantangan Terbesar: Air Jangan Sampai Berebut dengan Pertanian
Persoalan lingkungan menjadi semakin penting ketika data center dibangun di wilayah yang memiliki fungsi strategis bagi masyarakat.
Contohnya proyek BDx CGK4 di Jatiluhur.
Dalam pengembangan penuh, kebutuhan air proyek tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar 384 liter per detik, atau sekitar 33.000 meter kubik per hari. Jika angka tersebut benar-benar tercapai secara penuh, volumenya setara lebih dari 12 juta meter kubik per tahun. (Bisnis.com)
Angka tersebut tentu harus dibaca sebagai proyeksi kebutuhan pada tahap pengembangan tertentu, bukan berarti seluruh data center di Indonesia akan menggunakan air sebanyak itu.
Namun dari perspektif lingkungan, angka tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa pembangunan data center AI harus masuk dalam perencanaan sumber daya air secara serius.
Apalagi Jatiluhur memiliki fungsi penting bagi sistem irigasi di Jawa Barat.
Karena itu, prinsip dasarnya sederhana:
Pertumbuhan ekonomi digital tidak boleh dibayar dengan berkurangnya akses air masyarakat dan petani.
Pendinginan Hemat Air Harus Menjadi Standar Baru
Dari perspektif lingkungan, tantangan tersebut sebenarnya membuka peluang inovasi.
Data center masa depan perlu diarahkan menggunakan teknologi water-efficient cooling, termasuk:
closed-loop liquid cooling;
pemanfaatan air daur ulang;
pemanfaatan air hujan;
penggunaan sumber air non-tanah;
teknologi dry cooling pada kondisi yang memungkinkan;
sistem pendinginan dengan efisiensi energi tinggi;
pemantauan konsumsi air secara real time.
IKTII menyarankan kombinasi chiller hemat energi dengan sumber air non-tanah. Penggunaan air daur ulang, air hujan dan sistem pendingin cair tertutup juga dinilai penting untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya air. (Bisnis.com)
Ini menjadi semakin relevan bagi Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan suhu dan kelembapan relatif tinggi.
Bukan Hanya Air, Listrik Juga Harus Diperhitungkan
Tantangan lingkungan data center AI tidak berhenti pada air.
Listrik menjadi persoalan kedua yang sama pentingnya.
Institute for Essential Services Reform (IESR) mencatat Kementerian Komunikasi dan Digital memperkirakan kebutuhan listrik data center Indonesia pada 2029 dapat mencapai lebih dari 2 GW, sementara PLN memperkirakan kebutuhan sektor tersebut dapat mencapai 25 GW pada 2035. (Bisnis.com)
Bayangkan jika puluhan proyek AI-ready data center beroperasi secara bersamaan.
Maka pertanyaan lingkungan yang harus dijawab bukan sekadar:
“Berapa besar investasi yang masuk?”
Tetapi juga:
“Dari mana listriknya berasal?”
Apakah berasal dari pembangkit rendah karbon?
Apakah membutuhkan tambahan pembangkit fosil?
Bagaimana dampaknya terhadap jaringan listrik?
Siapa yang menanggung biaya penguatan jaringan?
Pertanyaan tersebut penting karena transformasi digital seharusnya tidak menciptakan persoalan energi baru.
Indonesia Bisa Menjadi Pusat Data AI, tetapi Jangan Mengulang Kesalahan Lama
Masuknya investasi data center AI merupakan peluang ekonomi yang sangat besar.
Indonesia memiliki pasar digital yang luas, lokasi strategis di Asia Tenggara, kawasan industri yang berkembang, jaringan telekomunikasi, serta kebutuhan komputasi domestik yang terus meningkat.
Sejumlah proyek bahkan memiliki kapasitas ratusan megawatt hingga gigawatt. Digital Edge, misalnya, menyiapkan CGK Campus dengan kapasitas awal 500 MW dan potensi ekspansi hingga 1 GW. Sementara sejumlah proyek lain dikembangkan di Batam, Bintan, Cikarang dan Purwakarta. (Bisnis.com)
Namun, investasi besar tidak otomatis berarti pembangunan berkelanjutan.
Dari perspektif lingkungan hidup, setiap proyek harus dilihat berdasarkan kondisi ekologis dan sosial di lokasi masing-masing.
Sebuah data center mungkin menggunakan teknologi paling modern, tetapi jika mengambil air dari sumber yang juga dibutuhkan masyarakat, persoalannya tetap harus dikaji.
Begitu pula pusat data yang menggunakan listrik dalam jumlah sangat besar perlu memperhitungkan sumber energi dan dampak karbonnya.
AMDAL Jangan Sekadar Formalitas
Peristiwa penghentian sementara pembangunan proyek BDx di Jatiluhur menjadi contoh bahwa aspek lingkungan harus diperhatikan sejak awal.
Pemerintah Jawa Barat menghentikan pekerjaan konstruksi proyek tersebut setelah ditemukan bahwa sejumlah persyaratan, termasuk AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), belum tuntas. (Bisnis.com)
IESR kemudian meminta agar kajian lingkungan dan sosial dilakukan secara menyeluruh serta dibuka kepada publik.
Langkah ini penting.
AMDAL seharusnya bukan sekadar dokumen untuk memenuhi persyaratan administratif.
AMDAL harus menjawab pertanyaan konkret:
Berapa kebutuhan air sebenarnya?
Dari mana sumber air diambil?
Apakah memengaruhi petani?
Bagaimana dampak terhadap ekosistem?
Berapa konsumsi listrik?
Dari mana sumber listriknya?
Berapa potensi emisinya?
Bagaimana pengelolaan limbah elektronik?
Bagaimana dampak panas dan kebisingan?
Apa rencana mitigasi ketika terjadi kekeringan?
Bagaimana masyarakat sekitar dilibatkan?
Inilah yang membedakan green data center dengan sekadar data center yang menggunakan teknologi modern.
Data Center AI Harus Membawa Konsep “Digital Growth, Environmental Responsibility”
Indonesia saat ini berada pada persimpangan penting.
Di satu sisi, AI menawarkan peluang besar untuk ekonomi, pendidikan, kesehatan, industri, pemerintahan, dan inovasi.
Di sisi lain, infrastruktur AI membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.
Karena itu, pembangunan data center sebaiknya menggunakan prinsip digital growth with environmental responsibility.
Artinya, investasi tetap dipersilakan tumbuh, tetapi harus berjalan bersama:
efisiensi energi + efisiensi air + energi rendah karbon + perlindungan ekosistem + transparansi + keterlibatan masyarakat.
IESR sendiri mendorong pemerintah menyusun regulasi safeguard AI dan data center yang memasukkan standar lingkungan, sosial dan energi ke dalam persyaratan pembangunan. (Bisnis.com)
Saatnya Indonesia Menentukan Standar Data Center Hijau
Delapan data center AI yang kini berkembang menunjukkan bahwa Indonesia sedang memasuki era baru.
Bukan lagi hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mulai membangun infrastruktur fisik yang menjadi tulang punggung AI.
Namun, semakin besar kapasitas komputasi, semakin besar pula tanggung jawab lingkungannya.
Ke depan, ukuran keberhasilan sebuah data center jangan hanya dilihat dari berapa megawatt kapasitasnya atau berapa triliun nilai investasinya.
Ukuran keberhasilan juga harus mencakup:
berapa hemat listriknya, berapa efisien penggunaan airnya, seberapa rendah emisinya, bagaimana pengelolaan limbahnya, dan apakah keberadaannya tetap memberikan ruang hidup yang sehat bagi masyarakat sekitar.
Jika prinsip tersebut diterapkan sejak awal, Indonesia bukan hanya berpeluang menjadi hub data center AI di Asia Tenggara, tetapi juga dapat membangun reputasi sebagai negara yang mampu mengembangkan ekonomi digital tanpa mengorbankan lingkungan.
🔎 8 Data Center AI di Indonesia
| No. | Data Center | Lokasi | Kapasitas yang disebutkan |
|---|---|---|---|
| 1 | BDx AI Campus 2 (CGK4) | Jatiluhur, Purwakarta | hingga 640 MW |
| 2 | DCI H1 & JK6 | Cibitung & Karawang | 128 MW operasional |
| 3 | Edgnex DAMAC | Jakarta & Cikarang | hingga 144 MW |
| 4 | NeutraDC Hyperscale | Cikarang | hingga 121,5 MW |
| 5 | Princeton Digital Group | Cikarang | 120 MW |
| 6 | Digital Edge & Indointernet CGK Campus | Bekasi/Cikarang | 500 MW–1 GW |
| 7 | NeutraDC Nxera | Batam | 54 MW |
| 8 | Equinix JK1 | Jakarta Pusat | 2,4 MW tahap awal |
Data kapasitas di atas merujuk pada laporan Bisnis.com mengenai fasilitas AI-ready data center di Indonesia; angka tersebut tidak seluruhnya berarti kapasitas yang sudah beroperasi penuh karena sebagian merupakan kapasitas pengembangan atau target fasilitas. (Bisnis.com)
Artikel
Focus Keyword:
Data Center AI di Indonesia
Judul :
8 Data Center AI di Indonesia, dari DCI hingga NeutraDC: Besar Potensi, Besar Tantangan Lingkungan
Meta Description:
8 data center AI berkembang di Indonesia, dari BDx, DCI, Digital Edge hingga NeutraDC. Simak kapasitas, kebutuhan listrik, air, dan tantangan lingkungannya.
Slug:8-data-center-ai-di-indonesia-dci-bdx-digital-edge-neutradc
Kata Kunci Terkait:
data center AI Indonesia, pusat data AI Indonesia, data center terbesar Indonesia, BDx Jatiluhur, DCI Indonesia, NeutraDC, Digital Edge, data center Cikarang, data center Batam, konsumsi listrik data center, konsumsi air data center, green data center, lingkungan hidup, AI Indonesia, investasi data center.
Tags:
Data Center AI, AI Indonesia, Pusat Data Indonesia, BDx Data Centers, DCI Indonesia, NeutraDC, Digital Edge, Indointernet, Cikarang, Jatiluhur, Purwakarta, Batam, Green Data Center, Lingkungan Hidup, Energi, Air, Teknologi AI, Investasi Indonesia
Hashtag:
#DataCenterAI #DataCenterIndonesia #AIIndonesia #PusatData #BDx #DCIIndonesia #NeutraDC #DigitalEdge #Indointernet #Cikarang #Jatiluhur #Purwakarta #Batam #GreenDataCenter #LingkunganHidup #Energi #SumberDayaAir #TeknologiAI #InvestasiIndonesia #TransformasiDigital #AI #DataCenterHijau (Bisnis.com)