Warga Kalimantan Hidup Bak di Negeri Arab, Sungai Raksasa Berubah Jadi “Gurun Pasir”

KALIMANTAN TENGAH – Pemandangan tak biasa terjadi di salah satu sungai terbesar di Kalimantan. Hamparan pasir yang biasanya berada di dasar sungai kini terlihat luas ke permukaan, membuat kawasan di sekitar Sungai Barito tampak seperti gurun pasir.

Fenomena tersebut menjadi perhatian setelah foto dan video kondisi sungai beredar luas. Namun, gambaran “gurun pasir” itu bukan berarti Sungai Barito benar-benar berubah menjadi gurun atau seluruh sungai mengering.

Badan Informasi Geospasial (BIG) menjelaskan bahwa alur utama Sungai Barito masih dialiri air, tetapi muka air dan lebar alur aktifnya menyusut secara signifikan selama musim kemarau. Citra satelit Sentinel-2 menunjukkan hamparan pasir dan gosong sungai semakin luas hingga pertengahan Agustus 2026. (Big Go)

Sungai Barito Surut Drastis, Hamparan Pasir Bermunculan

Perubahan paling jelas terlihat di sekitar Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

Berdasarkan pengamatan citra satelit pada 4 Mei, 8 Juli, 19 Juli dan 17 Agustus 2026, badan Sungai Barito yang sebelumnya relatif lebar mulai menyempit. Area pasir di tepian dan bagian dalam tikungan sungai pun semakin terbuka.

Pada citra 17 Agustus, hamparan pasir terlihat jauh lebih dominan dibandingkan kondisi beberapa bulan sebelumnya. (Big Go)

Kondisi inilah yang kemudian membuat lanskap sungai tampak seperti padang pasir di tengah Kalimantan.

Bukan Sungai Barito Benar-Benar Kering

Di tengah ramainya pemberitaan mengenai “Sungai Barito mengering”, ada fakta penting yang perlu dipahami.

Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan bahwa Sungai Barito tidak benar-benar kering secara keseluruhan.

Alur utama sungai masih memiliki aliran air dengan lebar sekitar 100 meter dan masih dapat dilalui kapal maupun perahu. Yang mengalami perubahan drastis adalah penurunan muka air dan debit sungai sehingga bagian dasar yang sebelumnya terendam kini muncul ke permukaan. (detikfinance)

Hal serupa ditegaskan BIG. Fenomena tersebut merupakan penyusutan badan air, bukan hilangnya seluruh aliran Sungai Barito. (Big Go)

Apa Penyebabnya?

Faktor utama yang disorot adalah musim kemarau dengan curah hujan rendah.

BMKG sebelumnya mencatat Kalimantan Tengah berada pada periode puncak musim kemarau. Pada Dasarian I Agustus 2026, curah hujan di Kalteng berada dalam kategori rendah, sekitar 0–10 milimeter per dasarian.

Sejumlah wilayah juga mengalami hari tanpa hujan selama puluhan hari. (detiknews)

BMKG Kalimantan Selatan juga memprediksi musim kemarau 2026 bersifat bawah normal, dengan sebagian besar wilayah Kalsel mengalami puncak kemarau pada September. (Staklim Kalsel)

Sementara itu, BMKG Kalimantan Selatan dalam pembahasan pengelolaan Wilayah Sungai Barito memperingatkan bahwa pengaruh El Niño dapat memperpanjang kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. (Staklim Kalsel)

Dampaknya Bukan Sekadar Pemandangan Unik

Sekilas, hamparan pasir di tengah sungai memang terlihat unik dan bahkan menyerupai lanskap Timur Tengah.

Namun, di balik pemandangan tersebut terdapat persoalan serius.

Penurunan debit sungai dapat berdampak pada:

  • transportasi sungai

  • distribusi logistik

  • aktivitas ekonomi masyarakat

  • kebutuhan air

  • pertanian

  • perikanan

  • ekosistem sungai

  • risiko kebakaran hutan dan lahan.

BMKG bahkan menyebut penurunan debit Sungai Barito membawa konsekuensi terhadap transportasi, logistik dan perekonomian regional. Di Muara Teweh, ketinggian air dilaporkan turun jauh dibandingkan kondisi normal. (detiknews)

Dengan kata lain, “gurun pasir baru” di Kalimantan bukan sekadar fenomena viral untuk dilihat dan difoto.

Mengapa Pasir Bisa Muncul di Tengah Sungai?

Secara sederhana, ketika debit dan muka air sungai turun, bagian dasar sungai yang selama ini tertutup air mulai terekspos.

Material berupa pasir, kerikil dan gosong sungai kemudian terlihat jelas di permukaan.

Fenomena ini juga terekam secara ilmiah melalui citra satelit Sentinel-2. BIG menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi dalam satu malam, tetapi berkembang sepanjang musim kemarau 2026. (Big Go)

Karena itu, istilah “Sungai Barito berubah menjadi gurun pasir” lebih tepat dipahami sebagai gambaran visual, bukan perubahan geologi Sungai Barito menjadi gurun.

Kalimantan Bak Negeri Arab? Ini Penjelasan Sebenarnya

Perbandingan dengan negeri Arab muncul karena hamparan pasir yang terbuka menciptakan lanskap yang tidak biasa untuk wilayah tropis seperti Kalimantan.

Namun secara ilmiah, Kalimantan tetap merupakan kawasan tropis. Hamparan pasir tersebut merupakan dasar sungai yang terekspos akibat penyusutan muka air, bukan terbentuknya gurun baru seperti gurun di kawasan Arab.

Fenomena ini justru menjadi gambaran nyata mengenai betapa besar pengaruh kondisi iklim dan musim terhadap ketersediaan air.

Ada Peringatan untuk Masyarakat

Kondisi kemarau panjang juga perlu diikuti dengan kesiapsiagaan terhadap kekeringan dan karhutla.

BMKG sebelumnya menilai kombinasi musim kemarau dan El Niño meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan. Pengelolaan sumber daya air pun membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha. (Staklim Kalsel)

Fenomena Sungai Barito dapat menjadi pengingat bahwa air merupakan sumber daya yang sangat penting dan tidak selalu tersedia dalam jumlah yang sama sepanjang tahun.

Kesimpulan

Sungai Barito memang mengalami penyusutan muka air yang signifikan, tetapi tidak berarti sungai tersebut benar-benar mengering seluruhnya.

Hamparan pasir yang kini terlihat luas merupakan bagian dasar sungai yang muncul akibat turunnya debit dan muka air selama musim kemarau.

Pemandangan tersebut boleh saja disebut sebagai “gurun pasir baru” Kalimantan dari sisi visual. Tetapi dari sisi ilmiah, fenomenanya adalah penyusutan badan air akibat kondisi kemarau dan rendahnya curah hujan.

Dan di balik foto-foto yang tampak eksotis itu terdapat pesan penting: ketika air menyusut, dampaknya bisa merembet jauh ke kehidupan masyarakat, transportasi, ekonomi hingga ketahanan lingkungan.


🔎 Google

Focus Keyword:
Sungai Barito mengering

Judul :
Sungai Barito Berubah Bak Gurun Pasir, Warga Kalimantan Hidup seperti di Negeri Arab

Meta Description:
Sungai Barito di Kalimantan Tengah mengalami penyusutan drastis saat kemarau. Hamparan pasir muncul seperti gurun, tetapi sungai tidak benar-benar kering.

Slug:
sungai-barito-mengering-gurun-pasir-kalimantan

Kata Kunci Terkait:

  • Sungai Barito mengering

  • Sungai Barito kering 2026

  • gurun pasir Kalimantan

  • Kalimantan bak negeri Arab

  • Sungai Barito surut

  • kemarau Kalimantan 2026

  • El Niño Kalimantan

  • Sungai Barito Kalahien

  • Barito Selatan

  • fenomena Sungai Barito

  • BMKG Sungai Barito

  • Kementerian PU Sungai Barito

  • kekeringan Kalimantan

  • pasir Sungai Barito

Kategori: Nasional | Lingkungan | Kalimantan | Cuaca | Fenomena Alam

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan laporan CNBC Indonesia dan dikonfirmasi dengan informasi dari BMKG serta Badan Informasi Geospasial. Istilah “gurun pasir” digunakan sebagai gambaran visual kondisi dasar sungai yang terekspos, bukan berarti Sungai Barito secara geologis berubah menjadi gurun. Kondisi sungai dapat berubah mengikuti curah hujan dan perkembangan musim. (cnbcindonesia.com)

Posting Komentar untuk "Warga Kalimantan Hidup Bak di Negeri Arab, Sungai Raksasa Berubah Jadi “Gurun Pasir”"

Admin
Selamat datang di Arsyafin Production, silahkan kirimkan detail kebutuhan Anda?