Vendor Cirebon - Arsyafin Production

Antara Penghormatan dan Peringatan: Makna Mendalam Isyarat Jabat Tangan Ulama dan Pemimpin

Dua Jabat Tangan, Dua Sikap: Menatap Kembali Makna Kebijaksanaan dan Integritas Ulama di Depan Penguasa

JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk dinamika sosial dan politik tanah air, sebuah narasi visual mengenai etika serta hubungan ideal antara ulama dan umara (pemimpin/penguasa) mendadak memantik perhatian luas publik di media sosial.

Unggahan tersebut menyoroti dua fenomena jabat tangan yang menampilkan dua gestur serta sikap yang amat bertolak belakang, sekaligus menjadi cermin besar bagi perjalanan integritas para tokoh agama.

Antara Menghormati dan Tetap Mengingatkan

Dalam salah satu pots visual yang viral, tampak sosok ulama independen—seperti halnya Pimpinan Modern Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal saat bertemu tokoh nasional—menunjukkan simbol kesetaraan yang bermartabat.

Sikap ini digambarkan secara apik melalui bahasa tubuh yang seimbang:

  • Tangan Kanan Menggenggam: Menjadi simbol adab, kehangatan, serta penghormatan yang tulus kepada seorang pemimpin negara atau pejabat publik.

  • Tangan Kiri Menunjuk/Memberi Isyarat: Menjadi simbol keberanian moral, ketegasan, serta nasihat agar penguasa tetap berjalan di atas koridor keadilan dan kebenaran.

Prinsip ini menegaskan bahwa ulama bermartabat tidak memusuhi pemerintah, namun tetap menjaga jarak ideal agar suara kritis demi membela kepentingan umat dan kebenaran tidak meredup.

Risiko Kehilangan Kewibawaan dan Peran Kritis

Di sisi lain, unggahan tersebut memberikan kritik tajam terhadap fenomena sebagian oknum yang terlalu larut dalam lingkaran kekuasaan atau jabatan. Ketika kedekatan pada jabatan politik lebih diutamakan daripada amanah keilmuan, terjadi perubahan sikap yang cukup kentara:

  • Tubuh Menunduk Terlalu Dalam: Mencerminkan kepasrahan dan rasa sungkan yang berlebihan di hadapan pemegang kekuasaan.

  • Hilangnya Suara Kritis: Fungsi utama ulama sebagai benteng moral (amar ma'ruf nahi munkar) perlahan luntur karena terikat kepentingan pragmatis.

Sikap merendah yang berlebihan di hadapan kekuasaan dinilai dapat mempertaruhkan martabat keilmuan sekaligus mencederai kepercayaan umat yang menaruh harapan besar pada keteladanan para ulama.

Harapan Bagi Etika Berbangsa

Refleksi visual ini membawa pesan mendalam bagi masyarakat luas. Ulama sejati hadir bukan untuk memuji penguasa secara buta, melainkan untuk membimbing dengan ilmu, menguatkan dengan adab, serta menjadi pengingat yang bijak ketika negara membutuhkan penuntun moral.

Kehadiran ulama yang tetap tegak, berdiri sejajar, dan berani menyampaikan kebenaran diyakini menjadi pilar penting demi terciptanya kepemimpinan nasional yang adil dan berkeadaban

Lebih baru Lebih lama

Hubungi Kami