CIREBON – Di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan ekonomi digital, muncul sebuah ungkapan yang ramai diperbincangkan warganet, yakni "pria nakal jadi blangsak, wanita nakal banyak cuan." Kalimat tersebut memancing berbagai tanggapan karena dianggap menggambarkan adanya perbedaan konsekuensi sosial dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang berperilaku menyimpang dari norma yang berlaku.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan benar atau salah, melainkan berkaitan erat dengan perubahan budaya, perkembangan industri digital, serta cara masyarakat memberikan penghargaan terhadap perhatian (attention). Berbagai penelitian maupun diskusi publik menunjukkan bahwa standar sosial terhadap pria dan wanita memang sering kali berbeda.
Perbedaan Standar Sosial dan Peluang Ekonomi
Dalam kehidupan sosial, pria dan wanita masih menghadapi ekspektasi yang berbeda.
Secara umum, masyarakat menempatkan pria sebagai sosok yang diharapkan mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, memiliki pekerjaan tetap, serta mampu membangun masa depan. Ketika seorang pria justru memilih gaya hidup yang dianggap "nakal", tidak produktif, atau mengabaikan tanggung jawabnya, dampaknya sering kali berpengaruh terhadap karier, hubungan sosial, hingga kondisi finansial.
Di sisi lain, perkembangan industri hiburan dan media sosial menciptakan peluang ekonomi baru yang sangat bergantung pada perhatian publik. Dalam ekosistem digital tersebut, sebagian kreator perempuan memperoleh keuntungan melalui kemampuan membangun personal branding, daya tarik visual, ataupun konten yang mampu menarik banyak penonton. Hal ini membuat sebagian orang beranggapan bahwa perilaku kontroversial dapat menghasilkan pendapatan apabila berhasil menarik perhatian publik.
Namun demikian, kondisi tersebut tidak berlaku bagi semua perempuan maupun semua bentuk konten, karena keberhasilan di industri digital tetap dipengaruhi oleh kreativitas, konsistensi, kemampuan pemasaran, algoritma platform, serta preferensi audiens.
Mengapa Fenomena Ini Terjadi?
Para pengamat sosial menyebut fenomena tersebut sebagai hasil dari pertemuan antara dua faktor utama, yaitu:
Norma sosial, yaitu harapan masyarakat terhadap peran pria dan wanita.
Ekonomi berbasis perhatian (attention economy), yaitu sistem ekonomi digital yang memberikan nilai tinggi terhadap perhatian publik, jumlah penonton, interaksi, dan popularitas.
Dalam ekonomi digital saat ini, perhatian pengguna internet telah menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Semakin besar perhatian yang diperoleh seseorang, semakin besar pula peluang memperoleh pendapatan melalui iklan, kerja sama merek, afiliasi, hingga monetisasi platform.
Dampak Berbeda bagi Pria dan Wanita
Berikut gambaran yang sering muncul dalam berbagai diskusi publik.
1. Pria Nakal Berpotensi Kehilangan Masa Depan
Perilaku yang sering dikaitkan dengan istilah "blangsak" umumnya mencakup:
Tidak disiplin.
Kehilangan fokus terhadap pekerjaan.
Terjerumus dalam kebiasaan negatif.
Sulit mempertahankan tanggung jawab.
Dalam banyak kasus, kondisi tersebut dapat menurunkan kepercayaan dari lingkungan kerja, keluarga, maupun relasi profesional. Akibatnya, kesempatan karier dan kondisi ekonomi pun dapat ikut terdampak.
2. Sebagian Perempuan Mendapat Peluang dari Industri Digital
Sementara itu, sebagian perempuan mampu memperoleh pendapatan melalui berbagai profesi digital seperti:
Content creator.
Influencer.
Entertainer.
Model digital.
Brand ambassador.
Dalam dunia yang semakin mengandalkan perhatian publik, kemampuan membangun citra diri, komunikasi, dan kreativitas menjadi modal penting untuk menghasilkan pendapatan. Meski demikian, tidak semua konten yang bersifat kontroversial akan membawa dampak positif; banyak pula kreator yang menghadapi kritik, tekanan psikologis, atau risiko terhadap reputasi jangka panjang.
Tidak Bisa Digeneralisasi
Para ahli mengingatkan bahwa ungkapan "pria nakal jadi blangsak, wanita nakal banyak cuan" merupakan penyederhanaan terhadap realitas sosial yang jauh lebih kompleks. Tidak semua pria yang melakukan kesalahan akan gagal dalam hidup, dan tidak semua perempuan yang tampil kontroversial akan memperoleh keuntungan finansial.
Kesuksesan seseorang tetap dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain:
Pendidikan.
Keterampilan.
Etos kerja.
Integritas.
Peluang ekonomi.
Kondisi sosial.
Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Selain itu, industri digital juga sangat kompetitif. Hanya sebagian kecil kreator yang mampu mempertahankan popularitas dan memperoleh penghasilan secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Fenomena "pria nakal jadi blangsak, wanita nakal banyak cuan" mencerminkan adanya perbedaan ekspektasi sosial serta perubahan lanskap ekonomi digital yang mengandalkan perhatian publik sebagai sumber nilai ekonomi. Meski demikian, ungkapan tersebut tidak dapat dijadikan aturan umum karena realitas kehidupan setiap individu berbeda-beda.
Pada akhirnya, keberhasilan jangka panjang tetap lebih banyak ditentukan oleh kompetensi, tanggung jawab, konsistensi, serta kemampuan membangun reputasi yang baik dibandingkan sekadar mengejar sensasi sesaat.
