CIREBON – Penyelidikan kecelakaan maut yang melibatkan truk kontainer bermuatan air minum dalam kemasan (AMDK) di jalur turunan Gronggong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terus berkembang. Hasil pemeriksaan awal mengungkap sejumlah temuan penting, mulai dari kondisi ban yang sudah aus hingga sistem rem yang menggunakan suplai angin bersama dengan klakson. Meski demikian, penyidik menegaskan belum dapat menyimpulkan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh rem blong.
Insiden tragis yang terjadi pada Senin, 13 Juli 2026, mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan beberapa korban lainnya mengalami luka-luka. Polisi bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon masih mendalami faktor teknis kendaraan maupun kemungkinan adanya faktor manusia dalam kecelakaan tersebut.
Pemeriksaan Awal Belum Membuktikan Rem Blong
Tim gabungan dari Dishub Kabupaten Cirebon dan Unit Gakkum Satlantas Polresta Cirebon melakukan pemeriksaan teknis terhadap truk kontainer sehari setelah kejadian di lokasi penyimpanan kendaraan, Mapolsek Talun.
Fungsional Analis Kebijakan Pengujian Kendaraan Bermotor Dishub Kabupaten Cirebon, Diyanto, menjelaskan bahwa pemeriksaan awal difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu sistem pengereman, sistem kemudi, dan dimensi kendaraan.
Dari hasil pemeriksaan sementara, petugas belum menemukan bukti yang dapat memastikan bahwa sistem pengereman mengalami kegagalan total atau rem blong.
"Pemeriksaan awal meliputi tiga aspek utama, yakni sistem pengereman, sistem kemudi, serta dimensi kendaraan," jelas Diyanto.
Ban Truk Sudah Aus Hingga Kawat Terlihat
Salah satu temuan yang menjadi perhatian petugas adalah kondisi ban truk yang dinilai sudah tidak layak digunakan.
Beberapa ban diketahui mengalami keausan cukup parah hingga lapisan kawat ban mulai terlihat. Kondisi tersebut dinilai tidak memenuhi standar keselamatan kendaraan dan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika melintasi jalan menurun dengan beban berat.
Meski demikian, Dishub menegaskan bahwa kondisi ban aus tersebut belum dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab utama kecelakaan.
Sistem Angin Rem Digunakan Bersama Klakson
Temuan lain yang menjadi perhatian adalah sistem pengereman truk menggunakan angin bertekanan yang juga dipakai untuk mengoperasikan klakson.
Artinya, satu tabung suplai udara digunakan untuk dua fungsi sekaligus sehingga distribusi tekanan angin terbagi.
Menurut Diyanto, kondisi tersebut masih memerlukan analisis lebih lanjut sebelum dikaitkan dengan penyebab hilangnya kendali kendaraan.
"Yang kami temukan sementara adalah tabung angin digunakan ganda untuk sistem rem dan klakson, sehingga suplai angin terbagi," ujarnya.
Karena kendaraan masih dalam kondisi terkunci dan mesin belum dapat dihidupkan, pemeriksaan teknis juga belum bisa dilakukan secara menyeluruh.
Polisi: Truk Diduga Kehilangan Kendali Sejak 120 Meter Sebelum Titik Tabrakan
Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) terbaru juga mengungkap fakta penting lainnya.
Berdasarkan pengukuran yang dilakukan Unit Gakkum Satlantas Polresta Cirebon bersama Dishub, truk diduga sudah kehilangan kendali sekitar 120 meter sebelum lokasi tabrakan.
Jalur Gronggong yang memiliki karakteristik turunan panjang, curam, dan disertai tikungan tajam diduga memperbesar risiko kendaraan sulit dikendalikan.
Anggota Unit Gakkum Satlantas Polresta Cirebon, Aipda Ade Nugraha, mengatakan hasil pengukuran tersebut masih menjadi bagian dari proses penyelidikan.
"Dari hasil pengukuran sekitar 120 meter. Selain itu, kondisi jalan di lokasi berupa turunan yang panjang, curam, serta terdapat tikungan sehingga sangat berpotensi menyebabkan kendaraan sulit dikendalikan," jelas Ade.
Sopir Mengaku Kendaraan Sudah Sulit Dikendalikan Sejak Awal Turunan
Keterangan pengemudi juga menjadi salah satu fokus penyelidikan.
Menurut pengakuan sopir kepada penyidik, kendaraan mulai kehilangan kendali sejak memasuki bagian atas turunan Gronggong.
Namun demikian, aparat kepolisian masih mendalami apakah kondisi tersebut disebabkan kegagalan sistem kendaraan, kondisi jalan, faktor muatan, atau kemungkinan kesalahan manusia (human error).
Tiga Orang Meninggal Dunia
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 12.30 WIB ketika truk kontainer melaju di jalur menurun Gronggong, kemudian menghantam sebuah warung makan di tepi jalan sebelum menabrak empat sepeda motor.
Akibat insiden tersebut:
Tiga orang meninggal dunia.
Dua korban meninggal di lokasi kejadian.
Satu korban meninggal saat menjalani perawatan.
Seorang siswi sekolah dasar masih menjalani perawatan intensif di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon.
Pemilik warung mengalami luka ringan dan telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan medis.
Polisi Masih Menunggu Hasil Pemeriksaan Lengkap
Satlantas Polresta Cirebon memastikan penyelidikan belum selesai. Pemeriksaan teknis kendaraan masih akan dilanjutkan sebelum penyidik menetapkan penyebab pasti kecelakaan maut tersebut.
Selain kondisi kendaraan, penyidik juga akan mendalami aspek operasional kendaraan, kondisi pengemudi, serta kemungkinan faktor lingkungan jalan agar penyebab kecelakaan dapat diungkap secara komprehensif.
Kesimpulan
Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan maut di turunan Gronggong, Kabupaten Cirebon, belum dapat dipastikan. Temuan awal menunjukkan adanya ban yang sudah aus, sistem angin yang digunakan bersama untuk rem dan klakson, serta dugaan kendaraan telah kehilangan kendali sekitar 120 meter sebelum titik tabrakan.
Namun, aparat kepolisian dan Dinas Perhubungan menegaskan bahwa seluruh fakta tersebut masih dalam tahap pendalaman. Kesimpulan resmi mengenai penyebab kecelakaan baru akan ditetapkan setelah seluruh pemeriksaan teknis dan investigasi selesai dilakukan.
