Prabowo Subianto soal Rupiah Tembus di atas Rp17.000: “Mau Dolar Berapa Ribu Kek,Kalian di Desa-desa Nggak Pakai Dolar”



Pernyataan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengenai pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi sorotan publik nasional. Dalam pidatonya saat meresmikan 1.062 Koperasi Desa Merah Putih, Prabowo menilai masyarakat, khususnya warga pedesaan, tidak perlu terlalu khawatir terhadap naiknya kurs dolar AS yang kini telah menembus level di atas Rp17.000.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara yang disiarkan melalui kanal resmi Sekretariat Presiden RI pada Sabtu (16/5/2026).

Prabowo Singgung Menteri Keuangan Purbaya


Dalam pidatonya, Prabowo Subianto juga menyinggung Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menurutnya tetap tenang menghadapi tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah.

“Purbaya sekarang populer banget, Purbaya ini. Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, nggak usah kalian khawatir itu,” ujar Prabowo di hadapan peserta acara.

Ia kemudian melontarkan pernyataan yang ramai diperbincangkan publik dan media sosial.

“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” kata Prabowo.

Fokus pada Ekonomi Desa dan Koperasi

Pernyataan tersebut muncul saat pemerintah tengah mendorong penguatan ekonomi kerakyatan melalui program Koperasi Desa Merah Putih.

Menurut Prabowo, masyarakat desa dinilai lebih banyak menggunakan transaksi berbasis rupiah dalam kehidupan sehari-hari sehingga dampak langsung fluktuasi dolar tidak terlalu dirasakan oleh sebagian besar warga pedesaan.

Pemerintah sendiri saat ini terus mendorong penguatan sektor pertanian, UMKM, dan ekonomi desa sebagai fondasi ekonomi nasional.

Pelemahan Rupiah Jadi Sorotan Publik

Nilai tukar rupiah yang melemah hingga di atas Rp17.000 per dolar AS belakangan menjadi perhatian besar masyarakat dan pelaku pasar.

Sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor global seperti:

  • Ketegangan geopolitik internasional
  • Kenaikan suku bunga global
  • Arus keluar modal asing
  • Perlambatan ekonomi dunia
  • Penguatan dolar AS secara global


Kondisi tersebut membuat pasar keuangan Indonesia berada di bawah tekanan dalam beberapa pekan terakhir.

Pengaruh Pelemahan Rupiah terhadap Masyarakat

Meski Prabowo menyebut warga desa tidak terlalu terdampak karena tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari, sejumlah pengamat ekonomi menilai pelemahan rupiah tetap memiliki efek tidak langsung terhadap masyarakat luas.

Beberapa dampak yang berpotensi muncul antara lain:

Harga barang impor meningkat
Kenaikan harga bahan baku industri
Tekanan terhadap inflasi nasional
Potensi kenaikan harga BBM dan pangan tertentu
Penurunan daya beli masyarakat

Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Respons Publik Beragam

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto memunculkan beragam respons di media sosial dan kalangan masyarakat.

Sebagian pihak menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk upaya menenangkan masyarakat di tengah tekanan ekonomi global. Namun, ada pula yang menilai pelemahan rupiah tetap perlu diwaspadai karena memiliki dampak jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Hingga kini, pemerintah bersama Bank Indonesia disebut terus memantau pergerakan pasar dan menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah dinamika global yang masih belum stabil.

Pemerintah Diminta Jaga Stabilitas Ekonomi

Para pengamat ekonomi menilai koordinasi kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Selain menjaga kepercayaan investor, pemerintah juga diminta memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga agar tekanan ekonomi global tidak semakin membebani kehidupan masyarakat Indonesia.

Posting Komentar untuk "Prabowo Subianto soal Rupiah Tembus di atas Rp17.000: “Mau Dolar Berapa Ribu Kek,Kalian di Desa-desa Nggak Pakai Dolar”"

Admin
Selamat datang di Arsyafin Production, silahkan kirimkan detail kebutuhan Anda?