Warga masyarakat ekonomi menengah ke bawah menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Beras yang selama ini diharapkan menjadi solusi pangan murah justru menuai kritik lantaran warna beras disebut tampak kekuningan dan dianggap kurang layak dibanding kualitas sebelumnya.
Salah satu warga Kota Cirebon yang enggan disebutkan identitasnya, sebut saja FW, mengaku terkejut saat membeli beras SPHP beberapa waktu lalu.
“Betul adanya bahwa beras SPHP yang sekarang kualitasnya sangat mengecewakan. Padahal enam bulan ke belakang kualitasnya masih bagus,” ujar FW saat diwawancarai.
Menurutnya, perubahan paling mencolok terlihat dari warna beras yang kini tampak kuning. Awalnya ia mengira warna tersebut berasal dari luntur kemasan, namun setelah diperiksa lebih lanjut ternyata berasal dari butiran beras itu sendiri.
“Saya kira warna kuning itu kelunturan dari packaging-nya, tapi ternyata memang kuning dari berasnya,” lanjutnya.
Warga Harap Pemerintah dan Bulog Turun Langsung ke Pasar
Keluhan masyarakat terhadap kualitas beras SPHP di Cirebon memunculkan harapan agar pemerintah daerah dan instansi terkait lebih aktif melakukan pengawasan di lapangan.
FW berharap Pemerintah Kota Cirebon, termasuk wali kota, pihak Bulog, serta pejabat terkait lainnya dapat rutin mengecek kondisi pasar, harga sembako, hingga kualitas beras subsidi yang diterima masyarakat.
“Tolonglah bapak wali kota, bapak KDM, kepala Bulog Cirebon sering-sering ke pasar cek harga sembako dan cek juga kualitas beras SPHP. Kasihan kami masyarakat kelas bawah lagi kesusahan perekonomian,” katanya.
Keluhan serupa juga mulai ramai diperbincangkan warga melalui media sosial dan forum komunitas lokal. Banyak masyarakat berharap kualitas beras SPHP tetap dijaga karena program tersebut menjadi andalan warga berpenghasilan rendah di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Beras SPHP Jadi Andalan Masyarakat Menengah ke Bawah
Program SPHP selama ini dikenal sebagai upaya pemerintah menjaga stabilitas harga beras dan memastikan ketersediaan pangan dengan harga terjangkau. Beras medium tersebut didistribusikan melalui pasar tradisional, pengecer, hingga operasi pasar di berbagai daerah termasuk Kota Cirebon.
Namun bagi masyarakat, kualitas produk tetap menjadi faktor utama selain harga murah. Warga menilai penurunan kualitas dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap program subsidi pangan pemerintah.
Pengamat pangan menilai pengawasan distribusi dan penyimpanan beras menjadi aspek penting untuk menjaga mutu produk hingga sampai ke tangan konsumen. Faktor penyimpanan yang tidak tepat, kelembapan gudang, maupun proses distribusi yang terlalu lama disebut dapat memengaruhi kualitas fisik beras.
Tekanan Ekonomi Membuat Warga Semakin Sensitif terhadap Harga dan Kualitas Pangan
Di tengah kondisi ekonomi yang masih dirasakan berat oleh sebagian masyarakat, kualitas bahan pangan menjadi perhatian utama warga. Kelompok ekonomi menengah ke bawah sangat bergantung pada program pangan bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya fokus menjaga harga tetap stabil, tetapi juga memastikan kualitas pangan yang beredar benar-benar layak konsumsi dan sesuai standar.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai keluhan kualitas beras SPHP di Kota Cirebon tersebut.

Posting Komentar untuk "Kualitas Beras SPHP di Kota Cirebon Dikeluhkan Warga, Warna Kekuningan Picu Kekecewaan Masyarakat"