Bandung, Indonesia — Kirab budaya Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang dipimpin Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda 2026 kembali menyita perhatian publik. Di tengah antusiasme masyarakat, muncul berbagai spekulasi mistis terkait mahkota peninggalan sejarah Sunda tersebut. Namun, para ahli menegaskan bahwa Mahkota Binokasih dapat dijelaskan secara ilmiah melalui pendekatan sejarah, arkeologi, dan kosmologi budaya Sunda.
Puncak kirab budaya yang digelar Sabtu, 16 Mei 2026, di Kota Bandung menjadi momentum penting dalam upaya mengangkat kembali warisan Kerajaan Pajajaran secara akademis dan rasional. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan mendorong penyusunan kajian ilmiah komprehensif mengenai Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih agar masyarakat memahami nilai sejarahnya secara objektif, bukan melalui pendekatan mistik atau klenik.
Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Mahkota Binokasih
Dalam diskusi kebudayaan bertema Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake di Museum Pajajaran, Bogor, Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya dokumentasi akademik terhadap peninggalan sejarah Sunda.
Menurutnya, Mahkota Binokasih bukan sekadar simbol budaya, melainkan sumber pengetahuan sejarah yang harus dipahami generasi muda secara ilmiah.
“Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga harus memiliki kajian akademik lengkap, mulai dari bahan pembuatannya, sejarahnya, hingga makna simboliknya,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa hasil kajian tersebut nantinya dapat menjadi pijakan dalam membangun arah kebijakan budaya, pendidikan, hingga tata ruang Jawa Barat yang berbasis nilai sejarah lokal.
Prasasti Batutulis Jadi Kunci Sejarah Pajajaran
Kota Bogor yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran kembali menjadi perhatian setelah kajian terhadap Prasasti Batutulis diperkuat oleh para ahli.
Ahli epigrafi menjelaskan bahwa prasasti tersebut dibuat atas perintah Raja Surawisesa sebagai penghormatan terhadap Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, penguasa besar Pajajaran pada abad ke-15 hingga awal abad ke-16.
Prasasti itu menjadi salah satu bukti fisik paling penting yang masih tersisa dari kejayaan Kerajaan Pajajaran setelah runtuh akibat perubahan politik dan masuknya pengaruh kerajaan Islam di Pulau Jawa.
Ahli BRIN Jelaskan Makna Ilmiah Mahkota Binokasih
Penjelasan ilmiah paling menarik datang dari ahli arkeometalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harry Octavianus Sofian.
Menurut hasil kajiannya, Mahkota Binokasih ternyata dirancang menggunakan konsep Kosmologi Tritangtu, filosofi Sunda kuno yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.
Harry menjelaskan bahwa struktur mahkota terbagi menjadi tiga bagian utama yang melambangkan sistem kepemimpinan Sunda masa lalu:
1. Bagian Atas: Simbol Pemimpin Spiritual
Bagian atas mahkota berbentuk stupa dengan ornamen bunga teratai. Struktur ini melambangkan golongan spiritual atau Rama, yakni pemimpin moral yang bertugas menjaga kebijaksanaan, adat, dan nilai kemanusiaan.
2. Bagian Tengah: Simbol Kekuasaan Raja
Bagian tengah merepresentasikan Ratu atau penguasa kerajaan. Desain segitiga dan ornamen Garuda Mungkur melambangkan keberanian, kepemimpinan, dan perlindungan terhadap rakyat.
3. Bagian Bawah: Simbol Kaum Intelektual
Sementara bagian bawah menggambarkan Resi, yakni golongan intelektual dan penasihat kerajaan yang bertugas menyuplai ilmu pengetahuan serta pertimbangan rasional dalam pemerintahan.
Konsep ini menunjukkan bahwa Mahkota Binokasih tidak dibuat secara sembarangan atau mistis, melainkan mengandung filosofi politik dan sosial yang sangat maju pada zamannya.
Mahkota Binokasih dan Jejak Kerajaan Sunda
Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, Mahkota Binokasih awalnya dibuat di Kerajaan Galuh sebelum akhirnya menjadi simbol legitimasi kekuasaan Pajajaran.
Ketika Kerajaan Pajajaran runtuh, mahkota tersebut diselamatkan dan dibawa ke Keraton Sumedang Larang oleh empat utusan kerajaan. Hingga kini, mahkota tersebut masih dijaga sebagai pusaka budaya Sunda yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Momentum kirab budaya tahun 2026 dianggap sebagai kesempatan penting untuk mengenalkan kembali identitas budaya Sunda kepada masyarakat luas secara ilmiah dan edukatif.
Mengubah Stigma Mistis Menjadi Pemahaman Sejarah
Perdebatan mengenai Mahkota Binokasih selama ini sering dikaitkan dengan unsur supranatural. Namun pendekatan ilmiah yang dilakukan BRIN dan pemerintah daerah diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat.
Kajian akademik terhadap benda-benda pusaka Nusantara dinilai penting agar generasi muda memahami bahwa peninggalan sejarah Indonesia memiliki nilai peradaban, teknologi, filosofi, dan budaya yang tinggi.
Kirab budaya Mahkota Binokasih pun bukan hanya seremoni adat, melainkan simbol kebangkitan identitas budaya Sunda yang kini mulai dibaca ulang melalui perspektif sejarah dan ilmu pengetahuan modern.
Posting Komentar untuk "Bukan Klenik, Ini Penjelasan Ilmiah BRIN soal Mahkota Binokasih Usai Dikirab Dedi Mulyadi di Bandung"