Arsyafin Production

Vendor Cirebon - Vendor Produksi Cirebon
Cinta Segitiga! Caleg Inisial ‘D’ Terancam Hukuman Mati, Mobil Sempat Mogok di Kuningan Saat Mau Buang Korban

Cinta Segitiga! Caleg Inisial ‘D’ Terancam Hukuman Mati, Mobil Sempat Mogok di Kuningan Saat Mau Buang Korban

Bukan lagi menunggu kepastian hasil Pemilu 2024, tapi malah hukuman mati mengancam Caleg inisial D setelah terbukti sebagai otak pembunuhan gara-gara prahara “cinta segitiga.” Caleg inisial D adalah seorang calon legislatif yang bertarung di Pemilu 2024. Dia Caleg DPR RI untuk pemilu di daerah Dapil IX Jawa Barat. Korbannya berinisial “I” meregang nyawa di tangan pembunuh bayaran. Dan, ternyata kasus ini sempat lewat melintasi jalanan di wilayah Kabupaten Kuningan.

Diketahui, saat pembunuh hendak membuang mayat korban dengan pengakuannya bertujuan ke daerah Pangandaran. Tiba-tiba saja, mobil yang dikendarai si pembunuh mengalami mogok di daerah Kabupaten Kuningan, hingga harus diderek. Sementara mayat korban dipakaikan masker seolah lelap tertidur dalam mengelabui orang-orang.

Siapakah Caleg Inisial “D”? Dia adalah Devara Putri Prananda (DP).

Korbannya ialah Indriana Dewi Eka Saputri. Si pembunuh bayaran bernama Muhammad Reza (MR), dan satu orang lagi terlibat tak lain adalah Didot Alviansyah (DA) pacar korban yang merupakan mantan Caleg DPR RI yang menjadi otak pembunuhan. Berdasar keterangan Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Jawa Barat, Kombes Surawan, kasus pembunuhan ini menjurus pada motif cinta segitiga. Devara tampaknya cemburu karena kekasihnya, Didot Alfiansyah (DA), memiliki hubungan Indriana Dewi Eka Saputri. Dirkrimum Polda Jabar mengungkap, setelah melakukan olah TKP pada Jumat, 1 Maret 2024, “Jadi karena cemburu, kemudian melakukan ini.”

Tersangka Didot awalnya memiliki hubungan asmara dengan Devara, tetapi kemudian dia memiliki hubungan asmara dengan Indriana. Tapi ternyata, Didot ingin balikan menjalin hubungan dengan Devara. Lantas Devara mencetuskan syarat pembuktian cinta, yang diduga menjadi asal pemicu pembunuhan Indriana. “Pelaku DA mau kembali lagi ke pacarnya yang ini (Devara).

Tapi perempuan ini bilang, ‘saya enggak mau kalau dia masih ada di dunia ini. Terserah mau kau bunuh, mau apa, saya enggak mau dia ada di dunia ini’,” kata Kanit 1 Ranmor Direktorat Kriminal Umum Polda Jawa Barat AKP Luhut Sitorus.

Pembunuh Bayaran Muhammad Reza (MR) dikontak oleh Didot dan Devara untuk menghabisi Indriana.

Si pembunuh bayaran juga dijanjikan akan diberi upah sebesar Rp50 juta.

Kronologi pembunuhan, pada awalnya ketiga orang pembunuh itu berencana membuang mayat Indriana di laut Pangandaran. DA dan MR membawa korban ke tempat Devara di Jakarta, pasca pembunuhan yang dilakukan mereka di Jalan Pelangi Boulevard Cijayanti, Babakanmadang, Bogor.

Didot, Devara, dan Reza berencana membuang mayat Indri ke laut Pangandaran keesokan harinya, 21 Februari 2024. Dari Jakarta, para pembunuh itu berhenti sejenak di Cirebon sore hari, dan baru meneruskan perjalanan pada malam harinya.

Namun, saat mereka melintasi daerah Kabupaten Kuningan pada 22 Februari 2024 dini hari, perjalanan mereka mengalami masalah. Mobil yang ditumpangi malah menabrak batu, menyebabkan mogok karena oli bocor hingga diderek menuju bengkel. Kesialan mulai menimpa si pembunuh karena tak bisa kesampaian membuang mayat korban di Pangandaran. Besoknya, seorang pesepeda pada Minggu, 25 Februari 2024, menemukan mayat korban yang terbungkus selimut di pinggir tebing Jalan Raya Banjar – Cimaragas.

Akhir Karier Caleg “D” Devara si otak pembunuhan yang terdaftar sebagai Caleg dari Partai Garuda untuk Dapil Jawa Barat IX, yang mencakup Kabupaten Majalengka, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Sumedang—berdasar Info Pemilu yang ditemukan di situs resmi KPU RI. Keterangan itu dibenarkan oleh Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi. Meskipun demikian, pihaknya menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mengenal Devara secara langsung. Dan, hasil rapat internal Partai Garuda menyatakan Devara resmi dipecat sebagai anggota kader karena kasus berat yang menjeratnya.

Sekjen DPP Partai Garuda, Yohanna Murtika, menyatakan, “Sudah kami cabut keanggotaannya. Kami dari internal pastinya memberi peringatan keras kepada semua kader terlibat pelanggaran hukum.” Partai Garuda menyatakan bahwa kasus hukum tersebut merupakan hasil dari tindakan individu, bukan partai. Sekarang, Devara, Didot, dan Reza telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka terancam dengan ancaman pidana maksimal ‘hukuman mati’ berdasarkan Pasal 340 KUHP, 338 KUHP, dan 365 KUHP ayat 4.***

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
Telegram
WhatsApp
FbMessenger

Eksplorasi konten lain dari Arsyafin Production

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Contact Person