Buku Islam ala Prabowo Jadi Sorotan, TGB dan Keluarga Gus Kautsar Pertanyakan Pencantuman Nama

JAKARTA — Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali menjadi perbincangan publik. Bukan semata karena isinya yang membahas dimensi keislaman Presiden Prabowo Subianto, tetapi karena muncul persoalan mengenai pencantuman nama sejumlah tokoh yang disebut sebagai kontributor.

Salah satu nama yang menjadi perhatian adalah TGB Muhammad Zainul Majdi. Melalui respons di media sosial, TGB menyatakan, “Saya tidak pernah kirim tulisan.” Pernyataan tersebut muncul setelah publik menanyakan keterlibatannya dalam buku tersebut. (Fans TGB — Portal Warta Utama)

Hal serupa juga mencuat terkait KH Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar. Pihak keluarga, melalui istrinya, Ning Jazilah Annahdliyah, mempertanyakan pencantuman nama Gus Kautsar sebagai penulis tanpa adanya izin atau pengetahuan dari yang bersangkutan. (Pikiran-Rakyat.com)

Polemik inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan lebih besar: bagaimana mekanisme editorial buku tersebut hingga nama seseorang dapat tercantum sebagai kontributor ketika yang bersangkutan menyatakan tidak pernah mengirim tulisan?

Buku Islam ala Prabowo Sebenarnya Membahas Apa?

Buku berjudul lengkap Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam bukanlah buku yang ditulis langsung oleh Prabowo Subianto.

Buku tersebut ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas, serta diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House. Gagasan penerbitannya diinisiasi Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar. (Antara News)

Materi buku membahas dimensi keislaman Prabowo dari sejumlah perspektif, mulai dari kehidupan pribadi, perjalanan karier militer hingga kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia. (Media Indonesia)

Buku tersebut pertama kali diperkenalkan melalui rangkaian Rakornas BAZNAS 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Peluncurannya melibatkan sejumlah tokoh nasional dan keagamaan. (Antara News)

Dengan demikian, ramainya pembahasan pada September 2026 bukan berarti bukunya baru diterbitkan. Yang kembali mencuat adalah polemik dan diskusi publik mengenai isi serta nama-nama yang tercantum di dalamnya.


TGB: “Saya Tidak Pernah Kirim Tulisan”

Polemik semakin berkembang setelah nama TGB Muhammad Zainul Majdi ditemukan dalam buku tersebut.

Nama TGB tercantum pada bagian yang membahas “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan.”

Namun ketika ditanya mengenai keterlibatannya, TGB memberikan jawaban singkat:

“Saya tidak pernah kirim tulisan.” (Fans TGB — Portal Warta Utama)

Kalimat tersebut sederhana, tetapi konsekuensinya cukup serius dari sisi tata kelola penerbitan.

Sebab, bagi seorang tokoh yang namanya mempunyai reputasi di tengah masyarakat, pencantuman nama sebagai penulis atau kontributor bukan sekadar persoalan administratif. Nama tersebut dapat dipahami publik sebagai bentuk persetujuan, keterlibatan, bahkan pertanggungjawaban terhadap isi tulisan.

Karena itu, klarifikasi dari TGB menjadi salah satu titik penting dalam polemik buku tersebut.


Nama Gus Kautsar Juga Dipertanyakan

Nama KH Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar juga menjadi sorotan.

Dalam buku, nama Gus Kautsar dikaitkan dengan tulisan mengenai dukungan pesantren terhadap Presiden Prabowo Subianto. Namun pihak keluarga kemudian mempertanyakan bagaimana nama tersebut dapat tercantum sebagai kontributor.

Pihak keluarga menyampaikan bahwa tidak ada izin yang diberikan terkait pencantuman nama Gus Kautsar sebagai kontributor. (Pojok Satu)

Persoalan ini tentu membutuhkan penjelasan dari pihak penyusun dan penerbit.

Sebab, ada perbedaan antara mengutip pemikiran seseorang, merangkum hasil wawancara, meminta izin menggunakan materi, dan mencantumkan seseorang sebagai penulis atau kontributor.

Keempat hal tersebut mempunyai konsekuensi etik yang berbeda.


Jangan Terburu-buru Menuduh, Tetapi Jangan Pula Mengabaikan Klarifikasi

Di sinilah masyarakat perlu bersikap bijak.

Munculnya istilah seperti “pencatutan nama” harus ditempatkan secara hati-hati sampai seluruh pihak memberikan penjelasan. Kita belum seharusnya menjatuhkan vonis hanya berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial.

Yang sudah dapat diberitakan adalah adanya perbedaan keterangan:

Buku mencantumkan nama tokoh tertentu sebagai kontributor, sementara tokoh atau keluarganya menyatakan tidak pernah mengirimkan tulisan atau tidak memberikan izin pencantuman tersebut.

Adapun penyebab perbedaan itu—apakah persoalan komunikasi, mekanisme editorial, penggunaan materi lain, kesalahan atribusi, atau persoalan lain—masih membutuhkan penjelasan dari pihak yang bertanggung jawab atas penyusunan dan penerbitan buku.

Sampai penelusuran terbaru, sejumlah pemberitaan menyebut publik masih menantikan penjelasan rinci dari pihak penyusun maupun penerbit mengenai mekanisme pencantuman nama tersebut. (Pojok Satu)


Dalam Islam, Nama dan Amanah Bukan Perkara Sepele

Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk berhati-hati dalam menyampaikan informasi.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”

Ayat ini sangat relevan di era media sosial.

Satu unggahan dapat menyebar dalam hitungan menit. Satu tuduhan dapat dibagikan ribuan kali. Tetapi ketika ternyata informasi tersebut keliru, kerusakan nama baik tidak selalu dapat dipulihkan dengan mudah.

Karena itu, persoalan buku Islam ala Prabowo sebaiknya tidak diarahkan menjadi ajang saling menghujat.

Tabayyun harus didahulukan.

Jika benar terdapat kekeliruan pencantuman nama, maka solusi terbaik adalah memberikan penjelasan terbuka, melakukan koreksi dan—bila diperlukan—memperbaiki atribusi pada cetakan atau edisi berikutnya.

Sebaliknya, jika terdapat konteks lain yang membuat nama tersebut dicantumkan, publik juga berhak memperoleh penjelasan yang transparan.


Etika Penerbitan: Nama Penulis Harus Jelas

Dari perspektif jurnalistik dan penerbitan, persoalan ini memberikan pelajaran penting.

Sebuah karya yang melibatkan banyak tokoh idealnya mempunyai dokumentasi yang jelas mengenai:

  1. Siapa yang menulis naskah.

  2. Siapa yang diwawancarai.

  3. Siapa yang memberikan kutipan atau materi.

  4. Siapa yang memberikan izin penggunaan materi.

  5. Siapa yang menyetujui pencantuman nama.

  6. Bagaimana proses editing dilakukan.

  7. Siapa yang bertanggung jawab terhadap hasil akhir.

Transparansi semacam ini bukan hanya melindungi penerbit dan penulis, tetapi juga melindungi nama baik tokoh yang disebut di dalam buku.

Apalagi ketika buku membawa isu keagamaan dan melibatkan nama ulama, kiai, akademisi serta tokoh nasional.


Menarik Pelajaran dari Polemik Islam ala Prabowo

Terlepas dari pro dan kontra terhadap buku tersebut, ada satu pelajaran yang sangat penting bagi masyarakat.

Jangan menjadikan nama ulama sebagai alat legitimasi tanpa kejelasan.

Dan pada saat yang sama, jangan pula menjadikan sebuah polemik sebagai alasan untuk menyerang seluruh ulama, pesantren, pemerintah, ataupun kelompok politik tertentu.

Islam mengajarkan keadilan dalam menilai.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 8, yang pada intinya mengingatkan orang beriman agar tetap berlaku adil dan tidak membiarkan kebencian kepada suatu kelompok membuat seseorang berlaku tidak adil.

Ini menjadi prinsip penting di tengah polarisasi politik.

Setuju kepada Prabowo bukan berarti semua kritik harus ditolak.

Tidak setuju kepada Prabowo juga bukan berarti setiap informasi negatif harus langsung dipercaya.

Kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang kita sukai.


Publik Menunggu Klarifikasi Resmi

Kini perhatian publik mengarah kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan buku.

Pertanyaan yang perlu dijawab sebenarnya cukup sederhana:

Bagaimana nama TGB Muhammad Zainul Majdi dan Gus Kautsar dapat tercantum dalam buku sebagai kontributor ketika pihak yang bersangkutan menyatakan tidak pernah mengirimkan tulisan atau tidak mengetahui pencantuman tersebut?

Jawaban atas pertanyaan itu penting agar polemik tidak berkembang menjadi prasangka yang lebih luas.

Terlebih, buku tersebut membawa nama besar tokoh keagamaan dan membahas hubungan antara Islam, kepemimpinan, moral, serta kehidupan berbangsa.

Karena itu, penyelesaiannya pun idealnya dilakukan dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai tersebut: terbuka, santun, tabayyun dan bertanggung jawab.


Kesimpulan

Polemik buku Islam ala Prabowo bukan semata-mata tentang pro atau kontra terhadap sosok Presiden Prabowo Subianto.

Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu etika pencantuman nama, transparansi kepenulisan dan tanggung jawab penerbitan.

TGB Muhammad Zainul Majdi telah menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mengirim tulisan. Pihak keluarga Gus Kautsar juga mempertanyakan pencantuman nama yang bersangkutan. (Fans TGB — Portal Warta Utama)

Namun, sebelum menyimpulkan adanya pelanggaran atau kesengajaan, publik perlu memberikan ruang kepada pihak penyusun dan penerbit untuk menjelaskan duduk perkara secara utuh.

Tabayyun bukan berarti membela. Tabayyun adalah cara menjaga kebenaran agar tidak kalah oleh prasangka.

Dan dalam perkara yang menyangkut nama baik seseorang, prinsip itu menjadi semakin penting.


🔎 ARTICLE

Focus Keyword:
Buku Islam ala Prabowo

Keyword turunan:

  • Islam ala Prabowo

  • polemik buku Islam ala Prabowo

  • TGB Muhammad Zainul Majdi

  • TGB bantah kirim tulisan

  • Gus Kautsar

  • buku Islam ala Prabowo TGB

  • buku Islam ala Prabowo Gus Kautsar

  • kontributor Islam ala Prabowo

  • polemik pencantuman nama

  • Prabowo Subianto

  • Ahmad Muzani

  • MUI

  • BAZNAS

  • berita terbaru Islam ala Prabowo

  • kontroversi buku Islam ala Prabowo

Title:
Buku Islam ala Prabowo Jadi Sorotan, TGB dan Keluarga Gus Kautsar Pertanyakan Nama Kontributor

Meta Description:
Buku Islam ala Prabowo kembali menjadi sorotan setelah TGB Muhammad Zainul Majdi dan keluarga Gus Kautsar mempertanyakan pencantuman nama sebagai kontributor. Simak faktanya.

Slug:
buku-islam-ala-prabowo-polemik-tgb-gus-kautsar

Kategori:
Nasional | Islam | Politik | Tokoh | Berita Terkini

Tag:
Islam Ala Prabowo, Prabowo Subianto, TGB, Gus Kautsar, MUI, BAZNAS, Ahmad Muzani, Buku Islam, Polemik, Tokoh Islam

Disclaimer

Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang diberikan pengguna dan penelusuran sejumlah pemberitaan yang tersedia hingga 7 September 2026. Pernyataan mengenai TGB dan keluarga Gus Kautsar disajikan sebagai klarifikasi pihak yang bersangkutan, bukan sebagai kesimpulan hukum mengenai adanya pencatutan nama. Sampai terdapat penjelasan resmi dan bukti yang lengkap dari seluruh pihak, istilah atau tuduhan yang bersifat definitif perlu dihindari. Analisis keislaman dalam artikel merupakan perspektif edukatif dan tidak dimaksudkan untuk mewakili fatwa resmi lembaga keagamaan tertentu. (IJP.co.id)

Pesan penutup:

“Jangan terburu-buru menyebarkan berita sebelum jelas kebenarannya. Tabayyun adalah bagian dari akhlak seorang Muslim.”

Posting Komentar untuk "Buku Islam ala Prabowo Jadi Sorotan, TGB dan Keluarga Gus Kautsar Pertanyakan Pencantuman Nama"

Admin
Selamat datang di Arsyafin Production, silahkan kirimkan detail kebutuhan Anda?