Fetisisme: Bukan Sekadar “Suka Benda Tertentu”, Kapan Menjadi Gangguan dan Bagaimana Mencegah Perilaku Merugikan?
JAKARTA — Istilah fetish atau fetisisme kerap muncul dalam percakapan media sosial, terutama ketika masyarakat menemukan kasus seseorang yang memiliki ketertarikan seksual terhadap benda atau bagian tubuh tertentu.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami: memiliki fetish tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan jiwa atau gangguan seksual.
Dalam perspektif klinis, yang menjadi perhatian bukan semata-mata apa objek yang menarik seseorang, melainkan seberapa kuat dorongan tersebut, apakah sulit dikendalikan, apakah menimbulkan tekanan atau mengganggu kehidupan, serta apakah melibatkan orang lain tanpa persetujuan.
American Psychiatric Association (APA) menegaskan bahwa tidak semua orang dengan ketertarikan seksual yang tidak biasa mengalami gangguan mental. Dalam kerangka DSM, suatu paraphilia dibedakan dari paraphilic disorder berdasarkan adanya distress atau gangguan fungsi yang bermakna, atau perilaku yang melibatkan penderitaan, cedera, kematian, maupun orang yang tidak bersedia memberikan persetujuan. (American Psychiatric Association)
Apa Itu Fetish atau Fetisisme?
Secara sederhana, fetisisme adalah ketertarikan atau rangsangan seksual yang berfokus pada benda mati atau bagian tubuh non-genital tertentu.
Contohnya dapat berupa ketertarikan terhadap:
kaki atau bagian tubuh tertentu;
sepatu;
pakaian;
bahan kulit atau lateks;
pakaian dalam;
tekstur atau material tertentu.
WHO dalam klasifikasi ICD-10 mendeskripsikan fetishism sebagai ketergantungan pada benda nonhidup sebagai rangsangan untuk gairah atau kepuasan seksual. Namun, klasifikasi klinis modern semakin menekankan pentingnya membedakan ketertarikan seksual dengan gangguan yang membutuhkan diagnosis dan penanganan.
Sementara itu, MSD Manual mencatat bahwa banyak orang yang mempunyai fetish tidak memenuhi kriteria klinis untuk fetishistic disorder. (MSD Manuals)
Dari Mana Istilah “Fetish” Berasal?
Menariknya, kata fetish pada awalnya tidak berasal dari dunia psikologi seksual.
Istilah tersebut berakar dari bahasa Portugis feitiço, yang berkaitan dengan benda yang dianggap memiliki kekuatan atau daya tertentu. Dalam perkembangan sejarah ilmu sosial dan antropologi, istilah tersebut kemudian digunakan untuk menggambarkan objek yang dipercaya mempunyai kekuatan khusus.
Dalam perkembangan berikutnya, istilah fetish digunakan dalam pembahasan seksologi dan psikologi untuk menggambarkan ketertarikan seksual yang sangat terfokus pada objek atau bagian tubuh tertentu.
Jadi, istilah yang sekarang sering digunakan dalam konteks seksual sebenarnya mempunyai sejarah penggunaan yang lebih panjang.
Apakah Orang yang Mempunyai Fetish Berarti “Sakit Jiwa”?
Tidak otomatis.
Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
APA menjelaskan bahwa ketertarikan seksual yang tidak lazim tidak dengan sendirinya merupakan gangguan mental. Diagnosis paraphilic disorder membutuhkan pertimbangan klinis mengenai distress, gangguan fungsi, atau unsur perilaku yang merugikan/melibatkan orang yang tidak memberikan persetujuan. (American Psychiatric Association)
Karena itu, seseorang yang mempunyai preferensi tertentu dalam hubungan seksual yang dilakukan secara konsensual, aman, dan tidak mengganggu kehidupan tidak boleh langsung diberi label sebagai “orang dengan gangguan jiwa”.
Sebaliknya, situasinya menjadi jauh lebih serius apabila seseorang:
tidak mampu mengendalikan dorongannya;
terus melakukan tindakan meskipun sudah mengetahui dampaknya;
mengalami gangguan pekerjaan atau kehidupan sosial;
mengalami tekanan psikologis berat;
melakukan tindakan terhadap orang lain tanpa persetujuan;
mengambil atau menggunakan barang milik orang lain untuk memenuhi dorongan seksual;
atau perilakunya menimbulkan kerugian maupun risiko terhadap orang lain.
Ciri-Ciri yang Perlu Diwaspadai
Tidak ada cara yang akurat untuk mengetahui seseorang memiliki fetish hanya dengan melihat penampilan, pekerjaan, cara berpakaian, atau kepribadiannya.
Diagnosis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu perilaku atau satu kejadian.
Namun, secara klinis beberapa pola berikut dapat menjadi alasan untuk mencari bantuan profesional:
1. Dorongan muncul berulang dan sangat kuat
Ketertarikan terhadap objek tertentu muncul berulang kali dan menjadi bagian yang sangat dominan dari fantasi atau perilaku seksual.
2. Sulit mengendalikan dorongan
Seseorang sudah berusaha menghentikan perilaku tertentu, tetapi terus mengulanginya.
3. Mengganggu kehidupan sehari-hari
Dorongan atau perilaku tersebut mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan keluarga, hubungan pasangan atau aktivitas sosial.
4. Menimbulkan distress
Orang tersebut mengalami tekanan psikologis bermakna akibat pola dorongan atau perilakunya.
5. Melanggar batas orang lain
Ini menjadi red flag paling penting.
Ketertarikan seksual tidak memberikan seseorang hak untuk mengambil barang milik orang lain, menyentuh seseorang tanpa izin, mengintip, merekam, atau melakukan tindakan seksual terhadap orang yang tidak menyetujuinya.
6. Perilaku semakin berisiko
Apabila seseorang terus meningkatkan perilaku untuk mendapatkan kepuasan dan mulai mengabaikan konsekuensi sosial, hubungan, hukum, maupun keselamatan, evaluasi profesional menjadi semakin penting.
MSD Manual menyebut fetishistic disorder sebagai pola gairah seksual yang berulang dan intens terhadap objek mati atau fokus yang sangat spesifik pada bagian tubuh non-genital yang menyebabkan distress atau gangguan fungsi bermakna. (MSD Manuals)
Mengapa Seseorang Bisa Mempunyai Fetish?
Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus.
Dalam literatur klinis, terdapat berbagai hipotesis mengenai bagaimana ketertarikan seksual tertentu dapat terbentuk. Salah satunya adalah proses belajar atau asosiasi antara suatu objek dengan pengalaman gairah seksual.
Namun, tidak tepat mengatakan bahwa setiap orang dengan fetish pasti mengalami trauma masa kecil, pola asuh tertentu, atau gangguan otak tertentu.
Artinya, jangan melakukan diagnosis berdasarkan asumsi.
Penilaian penyebab dan kondisi seseorang harus dilakukan melalui wawancara serta pemeriksaan psikologis/psikiatri yang memadai.
Lalu, Bagaimana Mencegah atau Mengantisipasi Perilaku yang Merugikan?
Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “bagaimana mencegah seseorang memiliki fetish?”, melainkan:
Bagaimana mencegah ketertarikan seksual berubah menjadi perilaku kompulsif, merugikan, atau melanggar hak orang lain?
Berikut langkah yang dapat dilakukan.
1. Pendidikan Seksual dan Batas Persetujuan
Sejak dini, masyarakat perlu memahami konsep consent atau persetujuan.
Barang milik orang lain bukan objek yang bebas diambil.
Tubuh orang lain juga bukan sesuatu yang boleh disentuh, direkam, diamati secara seksual, atau digunakan tanpa izin.
2. Jangan Mengambil Barang Orang Lain
Jika seseorang menyadari dirinya mempunyai ketertarikan seksual terhadap pakaian atau benda tertentu, batas paling penting adalah jangan mengambil barang milik orang lain tanpa izin.
Apabila kebutuhan tersebut ingin diekspresikan dalam hubungan seksual, harus dilakukan secara legal, aman, dan berdasarkan persetujuan semua pihak.
3. Kenali Pemicu
Seseorang yang merasa dorongannya sulit dikendalikan dapat mencatat situasi yang biasanya memicu dorongan tersebut.
Misalnya:
kondisi emosional tertentu;
kesepian;
stres;
paparan konten tertentu;
situasi atau lingkungan tertentu.
Mengenali pemicu dapat membantu seseorang mengambil jarak sebelum dorongan berkembang menjadi tindakan.
4. Cari Bantuan Psikolog atau Psikiater
Jika seseorang merasa kehilangan kendali atau perilakunya mulai mengganggu kehidupan, konsultasi dengan psikolog atau psikiater merupakan langkah yang lebih tepat dibandingkan menyembunyikan masalah atau melakukan tindakan sendiri.
DSM memang dirancang untuk digunakan oleh tenaga profesional dan kriteria diagnosis tidak dimaksudkan untuk digunakan masyarakat awam sebagai alat mendiagnosis diri sendiri. (American Psychiatric Association)
Terapi psikologis dapat membantu seseorang memahami pola pikir, pemicu, dorongan, serta mengembangkan strategi pengendalian perilaku.
Bagaimana Jika Keluarga Menemukan Perilaku yang Mengarah ke Fetisisme?
Keluarga sebaiknya tidak langsung mempermalukan, menghina, atau memberi label “gila”.
Langkah yang lebih konstruktif:
Amati → ajak bicara → tetapkan batas → cari bantuan profesional.
Jika perilaku tersebut sudah merugikan orang lain, keluarga juga perlu memprioritaskan keselamatan korban dan pencegahan perilaku berulang, bukan sekadar menjaga nama baik keluarga.
Apabila terdapat tindakan yang berpotensi melanggar hukum, penyelesaiannya juga harus mempertimbangkan aspek hukum selain aspek kesehatan mental.
Jangan Asal Menuduh Seseorang “Fetish”
Di era media sosial, satu rekaman video atau satu tindakan seseorang bisa dengan cepat diberi label tertentu.
Padahal, diagnosis kesehatan mental tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan video viral, komentar netizen, atau satu kejadian.
Seseorang yang mengambil pakaian, misalnya, memang dapat melakukan tindakan pencurian jika unsur hukumnya terpenuhi. Tetapi alasan psikologis di balik perbuatan tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan kata lain:
Perilaku dapat dinilai dari fakta dan bukti. Diagnosis psikologis membutuhkan pemeriksaan profesional.
Keduanya jangan dicampuradukkan.
Fetisisme dan Kesehatan Mental: Kapan Harus Mencari Pertolongan?
Segera pertimbangkan konsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila:
dorongan seksual terasa tidak terkendali;
perilaku terus berulang meskipun sudah berusaha dihentikan;
muncul kecemasan, rasa bersalah atau tekanan psikologis yang berat;
hubungan dengan pasangan atau keluarga terganggu;
pekerjaan atau aktivitas sehari-hari mulai terdampak;
terdapat dorongan melakukan tindakan tanpa persetujuan orang lain;
atau seseorang khawatir dirinya dapat membahayakan orang lain.
Penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing. MSD Manual menyebut psikoterapi atau terapi pasangan sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan; obat tertentu kadang dipertimbangkan oleh dokter pada kasus tertentu, tetapi tidak ada satu obat yang otomatis menjadi terapi untuk semua orang dengan fetishistic disorder. (MSD Manuals)
Kesimpulan
Fetish tidak sama dengan otomatis mengalami gangguan jiwa.
Yang menjadi perhatian medis adalah ketika ketertarikan tersebut berkembang menjadi pola yang menimbulkan distress, gangguan fungsi, kehilangan kendali, atau perilaku yang merugikan/melanggar persetujuan orang lain. APA secara tegas membedakan ketertarikan seksual yang tidak biasa dengan gangguan paraphilic. (American Psychiatric Association)
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak melakukan self-diagnosis maupun memberi diagnosis kepada orang lain berdasarkan informasi di media sosial.
Edukasi, batasan yang jelas, persetujuan, pengawasan lingkungan yang wajar, serta bantuan profesional ketika diperlukan merupakan langkah yang jauh lebih efektif daripada stigma dan penghakiman.
WHO juga menempatkan gangguan paraphilic dalam klasifikasi ICD-11 dengan kategori yang lebih spesifik, termasuk membedakan kondisi yang melibatkan individu tanpa persetujuan dari kondisi yang melibatkan perilaku soliter atau individu yang memberikan persetujuan. (Iris)
🔎 SEO Google
Focus Keyword:
fetisisme adalah
Keyword turunan:
apa itu fetish
apa itu fetisisme
ciri-ciri fetish
penyebab fetish
fetish dalam psikologi
fetish menurut psikologi
fetish apakah gangguan jiwa
fetishistic disorder
cara mengatasi fetish
cara mencegah perilaku fetish
gangguan parafilia
kesehatan mental dan fetish
Meta Description:
Apa itu fetisisme? Kenali pengertian, asal-usul, ciri-ciri, penyebab, kapan fetish menjadi gangguan dan cara mengantisipasi perilaku yang merugikan menurut perspektif psikologi dan psikiatri.
SEO Slug:fetisisme-adalah-pengertian-ciri-ciri-penyebab-dan-cara-mengatasinya
🔥 Alternatif Judul SEO
Fetisisme Adalah Apa? Kenali Pengertian, Ciri-Ciri, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Bukan Sekadar “Suka Benda Tertentu”, Ini Penjelasan Fetisisme Menurut Psikologi
Apa Itu Fetish? Kenali Ciri-Ciri Fetisisme dan Kapan Bisa Menjadi Gangguan
Fetisisme dalam Psikologi: Asal Usul, Ciri, Penyebab dan Cara Mengantisipasi Perilaku Berisiko
Waspada Salah Paham! Fetish Tak Selalu Gangguan Jiwa, Ini Penjelasan Psikologisnya
Disclaimer kesehatan: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan diagnosis terhadap individu tertentu. Diagnosis gangguan mental atau gangguan seksual harus dilakukan oleh tenaga kesehatan mental yang kompeten melalui evaluasi klinis. Jangan memberi label atau mendiagnosis seseorang hanya berdasarkan video, foto, perilaku tunggal, atau informasi media sosial. Jika terdapat perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, prioritaskan keselamatan dan segera cari bantuan profesional.
Sumber rujukan utama: American Psychiatric Association – Paraphilic Disorders · WHO – ICD-11 Clinical Descriptions and Diagnostic Requirements · Halodoc – Mengenal Penjelasan Fetish dari Sudut Pandang Psikologi · MSD Manual – Fetishistic Disorder

Posting Komentar untuk "Apa Itu Fetish? Kenali Ciri-Ciri Fetisisme dan Kapan Bisa Menjadi Gangguan"