Anti Tahlilan? Begini Cara Menyikapinya agar Ukhuwah Tetap Terjaga


Bagaimana Cara Menyikapi Orang yang Anti Tahlilan? Ini Pesan Penting agar Perbedaan Tidak Menjadi Permusuhan

Cirebon – Perbedaan pandangan mengenai tahlilan masih menjadi bagian dari dinamika kehidupan umat Islam di Indonesia. Di tengah masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan berbeda-beda, tidak jarang seseorang memilih mengikuti tahlilan, sementara yang lain tidak melakukannya.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi orang yang anti tahlilan?

Jawabannya bukan dengan kemarahan, celaan, apalagi memutus silaturahmi. Perbedaan dalam persoalan keagamaan yang memang menjadi ranah khilafiyah semestinya dihadapi dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati.

Pesan serupa pernah disampaikan Syekh Ali Jaber dalam ceramah yang kemudian diberitakan Liputan6. Ia mengingatkan umat agar tidak terjebak fanatisme dalam persoalan amalan seperti yasinan dan tahlilan. Menurut pemberitaan tersebut, orang yang ingin melaksanakan tahlilan dipersilakan, sementara orang yang tidak ingin melakukannya juga tidak perlu dipermasalahkan selama tetap menjalankan ajaran Islam dan membaca Al-Qur'an. (Liputan6.com)

Tahlil dan Tahlilan Perlu Dibedakan

Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah perbedaan antara tahlil dan tahlilan.

Secara bahasa, tahlil berkaitan dengan mengucapkan kalimat la ilaha illallah atau mengingat Allah. Suara Muhammadiyah, misalnya, menjelaskan bahwa zikir dan tahlil dalam pengertian tersebut merupakan amalan yang dianjurkan. Namun, tahlilan dalam konteks ritual yang dilakukan setelah seseorang meninggal dunia merupakan persoalan yang diperselisihkan ulama. (Suara Muhammadiyah)

Karena itu, jangan sampai perbedaan mengenai bentuk pelaksanaan tahlilan kemudian berkembang menjadi tuduhan bahwa seseorang tidak mencintai Al-Qur'an, tidak mendoakan orang meninggal, atau tidak menjalankan ajaran Islam.

Persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar “ikut tahlilan” atau “tidak ikut tahlilan”.

Mengapa Ada yang Tidak Mengikuti Tahlilan?

Sebagian umat Islam tidak mengikuti tahlilan karena memiliki pemahaman keagamaan bahwa ritual tertentu setelah kematian tidak memiliki tuntunan sebagaimana yang mereka pahami dari Al-Qur'an dan Sunnah.

Sebagai contoh, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan bahwa tahlilan untuk orang yang meninggal merupakan persoalan khilafiyah. Dalam pandangan yang mereka jelaskan, seseorang dapat meminta izin untuk tidak mengikuti tahlilan berdasarkan pemahaman agamanya. Jika menghadiri acara demi menghormati pihak yang mengundang, mereka juga menjelaskan pilihan untuk bersikap pasif. (Suara Muhammadiyah)

Artinya, seseorang yang tidak mengikuti tahlilan belum tentu menolak doa untuk orang yang telah meninggal. Bisa jadi ia memiliki cara dan landasan pemahaman agama yang berbeda.

Jangan Jadikan Perbedaan sebagai Alasan Bermusuhan

Dalam kehidupan bermasyarakat, persoalan yang lebih penting adalah bagaimana menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Bayangkan sebuah keluarga atau lingkungan masyarakat sedang berduka. Yang paling dibutuhkan keluarga yang kehilangan bukanlah perdebatan tentang siapa yang paling benar, melainkan dukungan, doa, kepedulian dan bantuan.

Karena itu, apabila ada tetangga yang tidak mengikuti tahlilan, tidak perlu langsung dijauhi.

Tetaplah menyapa.

Tetaplah membantu.

Tetaplah menjalin silaturahmi.

Jika suatu saat mereka membutuhkan pertolongan, bantulah semampunya.

Perbedaan dalam satu amalan tidak seharusnya menghapus persaudaraan sesama Muslim.

Bagaimana Jika Dia Mengkritik Tahlilan?

Jika seseorang menyampaikan bahwa dirinya tidak setuju dengan tahlilan, sikap terbaik adalah mendengarkan terlebih dahulu.

Apabila terdapat perbedaan dalil atau pemahaman, diskusikan dengan bahasa yang santun. Jangan mengubah diskusi agama menjadi ajang saling merendahkan.

Syekh Ali Jaber, sebagaimana diberitakan Liputan6, juga mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam fanatisme dan tidak menjadikan perbedaan amalan seperti tahlilan dan yasinan sebagai sumber perpecahan. (Liputan6.com)

Dalam persoalan seperti ini, prinsip sederhana yang dapat dipegang adalah:

Berbeda dalam pemahaman tidak harus berbeda dalam persaudaraan.

Jangan Memaksakan Keyakinan kepada Orang Lain

Jika kita meyakini tahlilan sebagai amalan yang baik berdasarkan pemahaman keagamaan yang kita ikuti, silakan melaksanakannya dengan ikhlas.

Namun, jangan memaksa orang lain untuk mengikuti.

Sebaliknya, seseorang yang tidak mengikuti tahlilan juga hendaknya tidak merendahkan orang yang melaksanakannya.

Suara Muhammadiyah sendiri menjelaskan bahwa ketika seseorang berada dalam lingkungan yang menyelenggarakan tahlilan, pendekatan yang dapat dilakukan adalah menyampaikan pandangan secara persuasif dan tidak konfrontatif. (Suara Muhammadiyah)

Cara seperti ini jauh lebih memungkinkan terciptanya dialog daripada saling menyerang.

Ketika Ada Tetangga Meninggal, Utamakan Kepedulian

Ada satu hal yang jangan sampai dilupakan.

Ketika seorang Muslim meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan sedang mengalami kehilangan. Kehadiran tetangga dan masyarakat untuk memberikan dukungan merupakan bentuk kepedulian sosial yang sangat penting.

Apabila seseorang memiliki pandangan berbeda tentang tahlilan, ia tetap dapat menunjukkan kepedulian dengan cara yang sesuai dengan keyakinannya.

Begitu pula orang yang melaksanakan tahlilan hendaknya tidak merasa perlu memusuhi mereka yang memilih tidak mengikuti.

Yang meninggal membutuhkan doa, sementara yang masih hidup membutuhkan persaudaraan.

Jangan sampai persoalan tata cara ibadah justru membuat hubungan antartetangga menjadi renggang.

Islam Mengajarkan Adab dalam Perbedaan

Perbedaan pendapat bukan sesuatu yang harus selalu berujung pertengkaran.

Dalam persoalan tahlilan, terdapat perbedaan pandangan di kalangan umat Islam. Karena itu, sikap yang bijaksana adalah memahami bahwa tidak semua persoalan keagamaan harus diselesaikan dengan cara memaksa orang lain menerima pendapat kita.

Syekh Ali Jaber dalam ceramah yang dikutip Liputan6 juga menekankan pentingnya tidak fanatik secara berlebihan dan mengambil hikmah dari ilmu yang diperoleh. (Liputan6.com)

Sementara itu, penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah menunjukkan bahwa bahkan ketika seseorang memilih tidak mengikuti tahlilan, pendekatan yang dianjurkan dalam konteks sosial dapat dilakukan dengan cara yang tidak konfrontatif. (Suara Muhammadiyah)

Kesimpulan: Berbeda Boleh, Bermusuhan Jangan

Cara menyikapi orang yang anti tahlilan bukan dengan membalas kebencian menggunakan kebencian.

Jika kita memilih melaksanakan tahlilan, laksanakan dengan ikhlas dan penuh ketenangan.

Jika saudara kita memilih tidak melaksanakannya karena keyakinan atau pemahaman keagamaannya, hormatilah pilihannya selama ia menjalankan keyakinannya secara bertanggung jawab.

Jika terjadi perbedaan pendapat, kembalikan kepada ilmu dan adab.

Dan yang paling penting, jangan sampai perbedaan mengenai tahlilan membuat kita lupa bahwa sesama Muslim tetap memiliki kewajiban untuk menjaga ukhuwah, saling menghormati dan berbuat baik.

Wallahu a'lam bish-shawab.


🔎 Paket Google Search

Focus Keyword:
cara menyikapi orang yang anti tahlilan

Keyword turunan:

  • orang yang anti tahlilan

  • hukum tahlilan dalam Islam

  • perbedaan pendapat tentang tahlilan

  • sikap terhadap orang yang tidak tahlilan

  • tahlilan menurut Islam

  • tahlilan setelah orang meninggal

  • pesan Syekh Ali Jaber tentang tahlilan

  • cara menghadapi perbedaan pendapat dalam Islam

  • tahlil dan tahlilan

  • menjaga ukhuwah Islamiyah

Title:
Cara Menyikapi Orang yang Anti Tahlilan, Jangan Sampai Jadi Permusuhan

Meta Description:
Bagaimana cara menyikapi orang yang anti tahlilan? Pahami perbedaan pendapat, jaga adab, silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah tanpa saling memusuhi.

Slug:
cara-menyikapi-orang-yang-anti-tahlilan

Tag:
Tahlilan, Tahlil, Islam, Syekh Ali Jaber, Ukhuwah Islamiyah, Perbedaan Pendapat, Kajian Islam, Tradisi Islam, Doa untuk Orang Meninggal

#Tahlilan #Tahlil #Islam #SyekhAliJaber #UkhuwahIslamiyah #PerbedaanPendapat #KajianIslam #TradisiIslam #DoaUntukOrangMeninggal #IslamItuIndah #IslamItuRamah

Alternatif judul:

  1. Anti Tahlilan? Begini Cara Menyikapinya agar Ukhuwah Tetap Terjaga

  2. Berbeda Pendapat soal Tahlilan, Begini Sikap yang Dianjurkan

  3. Jangan Bermusuhan karena Tahlilan, Ini Cara Bijak Menyikapi Perbedaan

  4. Orang Tidak Mau Tahlilan, Haruskah Kita Menjauh? Ini Penjelasannya

  5. Tahlilan Jadi Perdebatan? Utamakan Adab, Ilmu dan Persaudaraan

  6. Pesan Syekh Ali Jaber soal Tahlilan dan Bahaya Fanatisme Berlebihan

Rujukan utama: Pesan Syekh Ali Jaber untuk Orang yang Anti Tahlilan — Liputan6 dan Menyikapi Undangan Tahlilan Menurut Muhammadiyah — Suara Muhammadiyah.

Posting Komentar untuk "Anti Tahlilan? Begini Cara Menyikapinya agar Ukhuwah Tetap Terjaga"

Admin
Selamat datang di Arsyafin Production, silahkan kirimkan detail kebutuhan Anda?