Tawurji Keraton Kanoman Cirebon: Tradisi Lempar Koin yang Menyimpan Sejarah Panjang, dari Syekh Siti Jenar hingga Rebo Wekasan

CIREBON — Suara koin berjatuhan, teriakan warga, dan kerumunan yang berebut uang receh menjadi pemandangan khas setiap kali tradisi Tawurji digelar di Keraton Kanoman.

Bagi sebagian orang, Tawurji mungkin terlihat seperti sekadar tradisi “rebutan uang”. Namun di balik koin yang dilemparkan ke tengah kerumunan, terdapat cerita tentang sedekah, doa, keberkahan, kepedulian sosial, serta sejarah penyebaran Islam di Cirebon.

Tradisi ini dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar atau Rebo Wekasan, dan menjadi salah satu rangkaian tradisi budaya Keraton Kanoman menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bukan Sekadar Rebutan Uang Receh

Dalam pelaksanaannya, keluarga Keraton Kanoman membagikan atau melemparkan uang koin kepada masyarakat yang telah berkumpul.

Koin yang digunakan antara lain pecahan Rp500 dan Rp1.000, disertai makanan kecil, permen, serta beras dalam beberapa pelaksanaan. Sebelum dibagikan, benda-benda tersebut terlebih dahulu didoakan.

Ketika prosesi dimulai, suasana pun berubah menjadi sangat meriah.

Warga berlomba mendapatkan koin yang dilemparkan dari pihak keraton. Tidak jarang terjadi aksi saling berdesakan karena jumlah warga yang mengikuti tradisi jauh lebih banyak dibandingkan uang yang ditebarkan.

Namun bagi masyarakat yang datang, nilai Tawurji bukan terletak pada nominal uang yang diperoleh.

Mereka datang untuk ngalap berkah—mencari keberkahan sekaligus ikut mempertahankan warisan budaya Cirebon.

Dari Mana Asal Nama Tawurji?

Ada beberapa penjelasan mengenai asal-usul istilah Tawurji yang berkembang di lingkungan Keraton Kanoman.

Menurut penjelasan pihak keraton yang dikutip sejumlah media, kata tersebut berkaitan dengan “tawur”, yang berarti melempar atau menebarkan, sementara “ji” dikaitkan dengan haji atau orang yang mampu.

Maknanya kemudian berkembang menjadi gambaran tentang orang yang mampu bersedekah dan menebarkan keberkahan kepada masyarakat.

Ada pula syair yang dikenal dalam tradisi ini:

“Wur Tawurji Tawur, Selamat Dawa Umur.”

Syair tersebut dijelaskan sebagai doa agar orang yang diberi atau didoakan mendapatkan keselamatan, umur panjang, serta keberkahan.

Kisah Syekh Siti Jenar di Balik Tawurji

Bagian paling menarik dari sejarah Tawurji berkaitan dengan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang.

Menurut cerita yang berkembang di lingkungan Keraton Kanoman dan sejumlah sumber pemberitaan, tradisi tersebut dikaitkan dengan masa setelah wafatnya Syekh Siti Jenar.

Para pengikut atau santrinya disebut mengalami kondisi terlantar setelah kehilangan guru. Dalam kisah yang dituturkan pihak keraton, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga kemudian memberikan ruang kepada para santri tersebut untuk mencari penghidupan dengan cara mendoakan orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi.

Dari sinilah kemudian berkembang konsep doa dan sedekah yang menjadi ruh Tawurji.

Dengan kata lain, cerita tersebut tidak menggambarkan sedekah sebagai pemberian satu arah semata. Orang yang menerima pemberian juga memberikan sesuatu dalam bentuk doa kepada orang yang bersedekah.

Inilah yang membuat Tawurji memiliki dimensi sosial dan spiritual yang kuat.

Catatan penting soal sejarah

Kisah mengenai asal-usul Tawurji tersebut merupakan tradisi tutur atau narasi sejarah yang berkembang di lingkungan masyarakat dan keraton, bukan berarti seluruh detailnya dapat dipastikan sebagai fakta sejarah yang telah diverifikasi melalui sumber primer.

Penelitian akademik mengenai Tawurji juga mencatat narasi yang menghubungkan tradisi tersebut dengan wafatnya Syekh Siti Jenar dan kondisi para pengikutnya.

Karena itu, dalam penulisan sejarah kebudayaan, kisah tersebut lebih tepat disebut sebagai versi sejarah lisan atau tradisi yang diwariskan masyarakat Keraton Kanoman.

Mengapa Dilaksanakan pada Rebo Wekasan?

Tawurji tidak dilakukan sembarang waktu.

Tradisi tersebut dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar, yang dikenal masyarakat Jawa dan Cirebon sebagai Rebo Wekasan.

Dalam pemahaman tradisional masyarakat Cirebon, bulan Safar—terutama penghujungnya—dikaitkan dengan masa keprihatinan dan berbagai kemungkinan musibah.

Karena itu, masyarakat melakukan doa, sedekah, dan berbagai ritual sebagai bentuk ikhtiar spiritual.

Dalam konteks tersebut, Tawurji kemudian memiliki makna tolak bala, yakni memohon perlindungan dari berbagai marabahaya.

Penelitian UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon juga mencatat bahwa dalam keyakinan tradisional yang menjadi latar Tawurji, Safar dipandang sebagai bulan yang berkaitan dengan musibah sehingga sedekah dipandang sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk menangkalnya.

Tawurji dan Ngapem, Dua Tradisi yang Saling Berkaitan

Menariknya, Tawurji tidak berdiri sendirian.

Dalam rangkaian tradisi Rebo Wekasan di Keraton Kanoman terdapat pula Ngapem, yakni pembuatan dan pembagian kue apem kepada masyarakat.

Pemerintah Kota Cirebon pernah mencatat bahwa setelah kegiatan Memayu, rangkaian tradisi di Keraton Kanoman dilanjutkan dengan Tawurji dan sedekah apem.

Kue apem sendiri bukan hanya makanan.

Dalam konteks tradisi tersebut, apem menjadi simbol sedekah, rasa syukur, dan doa keselamatan.

Karena itu, Tawurji dan Ngapem dapat dilihat sebagai satu kesatuan pesan budaya: berbagi sebagai bentuk syukur sekaligus mempererat hubungan antara keraton dan masyarakat.

Dahulu Internal Keraton, Kini Terbuka untuk Masyarakat

Ada perubahan menarik dalam perjalanan tradisi Tawurji.

Menurut keterangan pihak Keraton Kanoman, pada masa sebelumnya kegiatan tersebut lebih banyak dilakukan di lingkungan internal keluarga keraton.

Namun dalam perkembangannya, masyarakat sekitar kemudian dilibatkan dan diundang untuk mengikuti prosesi.

Perubahan tersebut membuat Tawurji tidak lagi hanya menjadi ritual keluarga keraton, tetapi berkembang menjadi peristiwa budaya masyarakat Cirebon.

Warga dari berbagai wilayah bahkan datang untuk menyaksikan dan mengikuti prosesi tersebut.

Kenapa Warga Rela Berdesakan?

Pertanyaan ini sering muncul ketika melihat dokumentasi Tawurji.

Mengapa hanya demi uang Rp500 atau Rp1.000 orang rela berdesakan?

Jawabannya sebenarnya tidak sesederhana nilai uang.

Sejumlah warga mengatakan mereka mengikuti Tawurji untuk mendapatkan berkah, bukan mengejar jumlah uang yang diperoleh. Tradisi tersebut juga dianggap sebagai kesempatan untuk ikut melestarikan kebudayaan Keraton Kanoman.

Dengan demikian, koin dalam Tawurji memiliki nilai simbolik yang jauh lebih besar daripada nilai ekonominya.

Koin menjadi simbol sedekah.

Sedekah menjadi simbol syukur.

Dan syukur kemudian diwujudkan dalam bentuk doa serta harapan keselamatan.

Dari Tradisi ke Identitas Budaya Cirebon

Bagi pengamat kebudayaan, Tawurji menarik karena memperlihatkan bagaimana unsur keagamaan, tradisi keraton, kehidupan masyarakat, dan kearifan lokal dapat menyatu dalam satu ritual.

Tradisi tersebut memperlihatkan karakter kebudayaan Cirebon yang sejak dahulu menjadi ruang pertemuan berbagai pengaruh budaya dan agama.

Tidak mengherankan apabila Tawurji kemudian dipertahankan dari generasi ke generasi.

Bahkan dalam pemberitaan 2024, pihak Keraton Kanoman menyebut Tawurji telah dilakukan selama ratusan tahun.

Tawurji di Era Modern: Tradisi yang Harus Dijaga, Bukan Sekadar Viral

Di era media sosial, Tawurji mudah menjadi tontonan menarik.

Video warga berebut koin dapat dengan cepat viral karena visualnya memang unik: ratusan orang berkumpul, koin beterbangan, dan suara sorakan memenuhi halaman keraton.

Tetapi jika hanya dilihat sebagai “rebutan uang receh”, maka pesan budaya Tawurji justru hilang.

Esensi tradisi ini adalah sedekah, doa, keberkahan, solidaritas dan rasa syukur.

Tantangannya ke depan adalah bagaimana tradisi tersebut tetap dapat dipertahankan tanpa kehilangan makna dan tetap memperhatikan keselamatan masyarakat ketika prosesi berlangsung.

Sebab melestarikan budaya bukan berarti hanya mempertahankan bentuk ritualnya, tetapi juga menjaga nilai yang diwariskan di balik ritual tersebut.


Tawurji Cirebon dalam Satu Kalimat

Tawurji bukan tentang siapa yang paling banyak mendapatkan koin, tetapi tentang bagaimana tradisi mengajarkan bahwa rezeki yang dimiliki dapat kembali ditebarkan kepada sesama dalam bentuk sedekah, doa dan keberkahan.

Dari halaman Keraton Kanoman, koin-koin kecil itu seolah membawa pesan besar:

rezeki jangan hanya dikumpulkan—tetapi juga ditawurkan.

Dan mungkin, itulah salah satu alasan mengapa tradisi yang telah berlangsung lintas generasi tersebut masih bertahan hingga sekarang.

🔎 Kata Kunci 

Tawurji Cirebon, tradisi Tawurji Keraton Kanoman, sejarah Tawurji, Tawurji Rebo Wekasan, tradisi Rebo Wekasan Cirebon, Keraton Kanoman Cirebon, sejarah Tawurji Cirebon, Tawurji Syekh Siti Jenar, Sunan Gunung Jati, tradisi sedekah Cirebon, budaya Cirebon, tradisi koin Keraton Kanoman.

Meta Description

Mengungkap sejarah Tawurji Keraton Kanoman Cirebon, tradisi Rebo Wekasan berupa sedekah koin yang dikaitkan dengan kisah Syekh Siti Jenar, Sunan Gunung Jati dan budaya Cirebon.

Disclaimer: Artikel ini membedakan antara keterangan pihak keraton, pemberitaan media, dan hasil penelitian akademik. Narasi mengenai asal-usul Tawurji yang berkaitan dengan Syekh Siti Jenar merupakan bagian dari sejarah lisan/tradisi yang berkembang di masyarakat Cirebon dan tidak seluruh detailnya dapat dipastikan sebagai fakta sejarah primer.

Posting Komentar untuk "Tawurji Keraton Kanoman Cirebon: Tradisi Lempar Koin yang Menyimpan Sejarah Panjang, dari Syekh Siti Jenar hingga Rebo Wekasan"

Admin
Selamat datang di Arsyafin Production, silahkan kirimkan detail kebutuhan Anda?