SUMENEP — Di tengah perubahan zaman dan semakin modernnya pilihan profesi, Hashilatun Nasifah atau yang akrab disapa Sisil justru memilih jalan yang tidak biasa. Perempuan berusia 25 tahun itu meninggalkan dunia pekerjaan di bandara dan kembali ke kampung halamannya untuk menekuni pembuatan keris, tradisi yang diwariskan keluarganya selama beberapa generasi.
Kisah Sisil menjadi gambaran bagaimana perempuan muda Madura ikut menjaga warisan budaya Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa tradisi tidak harus berhenti di tangan generasi tua.
Menurut laporan BBC News Indonesia yang menjadi sumber informasi artikel ini, Sisil merupakan salah satu dari enam empu keris perempuan di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Desa tersebut dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan keris Madura. (BBC Mirror)
Dari Dunia Penerbangan Kembali Menjadi Empu Keris
Pilihan hidup Sisil cukup menarik perhatian.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah penerbangan di Sidoarjo, Sisil sempat bekerja sebagai petugas ticketing dan kargo di Bandara Juanda. Namun, beberapa tahun kemudian ia memutuskan kembali ke Sumenep dan serius mempelajari pembuatan keris.
Keputusan tersebut tidak muncul begitu saja. Sisil tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi pembuatan keris.
Sejak kecil, keris bukan sesuatu yang asing baginya. Lingkungan keluarga membuatnya mengenal bahwa keris bukan sekadar benda berbentuk bilah, tetapi juga bagian dari pengetahuan, filosofi dan warisan leluhur.
Ia kemudian mulai serius belajar membuat keris bersama ayahnya, Abdus Siddik, sejak 2022. (BBC Mirror)
Aeng Tongtong, Desa dengan Ratusan Perajin Keris
Nama Desa Aeng Tongtong memiliki posisi penting dalam dunia perkerisan Madura.
BBC mencatat terdapat sekitar 446 perajin keris di desa tersebut. Pada 2022, Aeng Tongtong juga memperoleh penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai desa wisata dengan jumlah empu keris terbanyak. (BBC Mirror)
Lingkungan tersebut membuat tradisi pembuatan keris tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Menariknya, dunia perkerisan di Aeng Tongtong tidak hanya menjadi ruang bagi laki-laki. Kehadiran empu perempuan seperti Sisil menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk belajar, berkarya dan mempertahankan tradisi tersebut.
Membuat Keris Bukan Pekerjaan Sederhana
Menjadi seorang empu membutuhkan keterampilan yang tidak bisa diperoleh secara instan.
Sisil harus memahami berbagai aspek pembuatan keris, mulai dari mengenali dhapur, memilih jenis logam, proses penempaan, pembentukan bilah, penghalusan hingga pewarangan untuk menghasilkan pamor.
Proses tersebut dapat berlangsung selama berbulan-bulan, tergantung jenis dan tingkat kesulitan keris yang dibuat. (BBC Mirror)
Dhapur berkaitan dengan bentuk atau desain bilah keris, sedangkan pamor merupakan pola yang muncul pada bilah melalui proses pengolahan dan perpaduan berbagai jenis logam.
Dengan demikian, seorang empu bukan hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memahami nilai filosofis yang melekat pada karya yang dibuatnya.
Keris Bukan Sekadar Benda Pusaka
Bagi Sisil, setiap keris mempunyai filosofi, harapan dan doa.
Salah satu contoh yang disebut dalam laporan tersebut adalah pamor Junjung Drajat, yang secara filosofis dikaitkan dengan harapan peningkatan derajat manusia, baik dalam kehidupan sosial maupun spiritual. (BBC Mirror)
Pandangan seperti inilah yang membuat aktivitas membuat keris menjadi lebih dari sekadar pekerjaan tangan.
Ada pengetahuan, sejarah, simbol, budaya dan filosofi yang ikut diwariskan melalui setiap bilah keris.
Nilai Ekonomi Keris Juga Tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata
Selain menjadi warisan budaya, keris juga memiliki nilai ekonomi.
Harga sebuah keris sangat bergantung pada kelas, kualitas, tingkat pengerjaan serta karakteristiknya. Dalam laporan BBC, Sisil mengaku pernah menjual keris dengan harga sekitar Rp20 juta.
Keris yang dibuat para empu di Aeng Tongtong disebut terbagi dalam beberapa kelas, mulai dari suvenir, kelas menengah hingga kelas tertinggi yang mencakup keris pusaka atau ageman. Nilai keris kelas tertinggi bahkan dapat mencapai ratusan juta rupiah. (BBC Mirror)
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya juga dapat berjalan berdampingan dengan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya.
Perempuan dan Tradisi Keris: Tidak Ada Batas Gender
Salah satu hal menarik dari perjalanan Sisil adalah bagaimana ia menjalani profesinya sebagai perempuan di lingkungan perkerisan.
Sisil mengatakan dirinya tidak mengalami stereotip negatif atau perlakuan merendahkan karena memilih menjadi empu.
Menurut budayawan Sumenep M. Hairil Anwar, kehadiran generasi muda seperti Sisil penting bagi keberlanjutan tradisi. Bahkan, keterlibatan perempuan menunjukkan bahwa dunia perkerisan tidak harus dipandang sebagai ruang yang hanya didominasi laki-laki. (BBC Mirror)
Pandangan tersebut juga sejalan dengan keterangan Ketua Pengelola Desa Wisata Keris Aeng Tongtong, Wawan Noviyanto, yang melihat hubungan antara empu laki-laki dan perempuan berlangsung dinamis serta saling melengkapi. (BBC Mirror)
Tantangan Terbesar: Menjaga Tradisi Tetap Hidup
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda, salah satu tantangan terbesar kebudayaan tradisional adalah regenerasi.
Jika tidak ada generasi penerus yang bersedia belajar, sebuah keahlian tradisional berpotensi kehilangan penerus.
Karena itu, keputusan Sisil untuk kembali ke kampung halaman memiliki makna lebih luas. Ia tidak hanya memilih sebuah pekerjaan, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan pengetahuan tradisional pembuatan keris.
Bagi Sisil, generasi muda perlu mengenal dan memahami keris terlebih dahulu sebelum benar-benar terjun ke dalam dunia tersebut. (BBC Mirror)
Keris, Identitas Budaya yang Harus Terus Dikenalkan
Kisah Sisil memberikan pesan penting: pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui museum atau acara seremonial.
Pelestarian juga dapat dilakukan dengan cara mempraktikkan langsung keahlian leluhur, mengajarkannya kepada generasi berikutnya dan menjadikannya bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Dari sebuah bengkel sederhana di Desa Aeng Tongtong, suara gesekan logam yang dikerjakan Sisil menjadi simbol bahwa tradisi lama masih dapat menemukan tempat di tengah kehidupan modern.
Dan ketika seorang perempuan muda memilih menjadi empu, pesan yang muncul menjadi semakin kuat: warisan budaya akan tetap hidup selama masih ada generasi yang bersedia merawatnya.
🔎 Kata Kunci
Sisil empu keris Sumenep, empu keris perempuan, keris Madura, Desa Aeng Tongtong, pembuat keris Sumenep, budaya Madura, keris Aeng Tongtong, tradisi keris Indonesia, warisan budaya Indonesia, empu keris perempuan Sumenep.
Meta Description:
Kisah Sisil, empu keris perempuan asal Sumenep yang meninggalkan pekerjaan di bandara untuk melestarikan tradisi pembuatan keris warisan keluarganya.
Judul alternatif :
Sisil, Empu Keris Perempuan Sumenep yang Memilih Pulang Melestarikan Warisan Leluhur
Kisah Sisil, Perempuan Muda Sumenep yang Menjadi Empu Keris
Empu Keris Perempuan dari Sumenep: Kisah Sisil Menjaga Tradisi Madura
Dari Bandara ke Bengkel Keris, Perjalanan Sisil Melestarikan Budaya Madura
Disclaimer: Artikel ini merupakan penulisan ulang dan pengembangan jurnalistik berdasarkan informasi yang tersedia dari sumber yang dirujuk. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan atau mengklaim sebagai artikel asli sumber. Beberapa bagian disusun ulang agar lebih mudah dibaca dan informatif. (BBC Mirror)

Posting Komentar untuk "Kisah Sisil, Empu Keris Perempuan dari Sumenep yang Memilih Pulang Demi Melestarikan Warisan Leluhur"