Kenapa Huruf “A” Lebih Utama dari “B”? Filosofi Adab di Atas Beautiful dan Ilmu

CIREBON — Pernah mendengar ungkapan sederhana: “Kenapa A lebih utama daripada B?” Jika kita membawanya ke dalam kehidupan, ada sebuah pengingat menarik: A dapat dimaknai sebagai Adab, sedangkan B sebagai Beautiful atau keindahan lahiriah.

Pesannya sederhana, tetapi dalam: penampilan yang indah akan lebih bermakna apabila disertai adab yang baik. Bahkan dalam tradisi keilmuan Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat penting karena ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan manfaatnya.

Bukan berarti adab harus dipertentangkan dengan ilmu. Justru adab merupakan sikap yang seharusnya mengiringi seseorang ketika mencari, memiliki, dan mengamalkan ilmu.

“Adab sebelum ilmu.”

Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa seseorang bukan hanya dituntut untuk mengetahui apa yang benar, tetapi juga bersikap benar ketika menggunakan pengetahuannya.


Apa Itu Adab?

Secara sederhana, adab dapat dipahami sebagai tata krama, kesopanan, akhlak, sikap hormat, dan perilaku yang sesuai dengan nilai kebaikan.

Adab tidak hanya berlaku ketika berbicara kepada orang yang lebih tua.

Adab juga mencakup:

  • Adab kepada Allah SWT.

  • Adab kepada Rasulullah SAW.

  • Adab kepada orang tua.

  • Adab kepada guru.

  • Adab kepada sesama manusia.

  • Adab kepada ilmu.

  • Adab ketika berbicara.

  • Adab ketika berbeda pendapat.

  • Adab ketika memiliki kekuasaan.

  • Bahkan adab ketika menggunakan harta dan fasilitas yang dimiliki.

Dengan demikian, adab bukan sekadar sopan santun, tetapi mencerminkan kualitas akhlak seseorang.


Mengapa Adab Sangat Penting Sebelum Ilmu?

Bayangkan ada seseorang yang memiliki gelar akademik tinggi, hafal banyak teori, pandai berbicara, dan memiliki kemampuan luar biasa.

Namun ia:

  • suka merendahkan orang lain,

  • tidak menghormati orang tua,

  • menghina gurunya,

  • merasa dirinya paling pintar,

  • menggunakan ilmunya untuk menipu,

  • atau memanfaatkan kepandaiannya untuk kepentingan yang merugikan orang lain.

Apakah ilmunya bermanfaat?

Di sinilah pentingnya adab.

Ilmu memberikan seseorang pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan adab membantu seseorang memahami bagaimana pengetahuan tersebut harus digunakan.


1. Adab Menjadi Penuntun Ilmu

Ilmu ibarat sebuah alat.

Alat yang sama dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan, tergantung siapa yang menggunakannya.

Orang yang memiliki ilmu tentang teknologi dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tetapi orang yang sama juga dapat menggunakan teknologi untuk melakukan penipuan jika tidak memiliki moral dan adab.

Karena itu, ilmu membutuhkan akhlak sebagai pengarahnya.

Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula tanggung jawab moralnya.


2. Ilmu Tanpa Adab Dapat Melahirkan Kesombongan

Salah satu bahaya ilmu adalah munculnya perasaan lebih tinggi daripada orang lain.

Seseorang yang baru mengetahui sedikit hal terkadang sudah merasa paling benar.

Padahal, semakin seseorang belajar, seharusnya semakin sadar bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas.

Allah SWT berfirman:

“...dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.”
QS. Yusuf: 76

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh menjadikan ilmu sebagai alasan untuk menyombongkan diri.

Berilmu bukan berarti boleh merendahkan orang lain.

Justru orang yang berilmu seharusnya semakin rendah hati.


3. Al-Qur'an Mengajarkan Pentingnya Akhlak

Salah satu dalil yang sangat kuat mengenai kemuliaan akhlak terdapat dalam Al-Qur'an ketika Allah SWT memuji Rasulullah SAW:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
QS. Al-Qalam: 4

Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya akhlak mulia dalam kehidupan seorang Muslim.

Rasulullah SAW bukan hanya menyampaikan ilmu dan wahyu, tetapi juga memberikan teladan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.


4. Adab Berbicara Juga Diperintahkan Al-Qur'an

Ilmu yang banyak tidak memberikan seseorang hak untuk berbicara seenaknya.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
QS. Al-Ahzab: 70

Perintah tersebut sangat relevan dengan kehidupan saat ini.

Terlebih di era media sosial.

Seseorang bisa memiliki gelar, jabatan, pengikut jutaan orang, atau memiliki pengetahuan yang luas.

Namun ketika berbicara tanpa adab, menyebarkan fitnah, menghina, atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, ilmu tersebut justru kehilangan nilai kemanfaatannya.


5. Adab Kepada Orang Tua

Ilmu setinggi apa pun tidak boleh membuat seseorang lupa kepada orang tua.

Allah SWT bahkan memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

Allah berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya...”
QS. Al-'Ankabut: 8

Dalam QS. Al-Isra ayat 23, Allah juga melarang seorang anak mengatakan perkataan yang menyakiti orang tuanya, bahkan sekadar “ah”.

Ini menunjukkan bahwa adab bukan hanya teori, melainkan harus terlihat dalam perilaku sehari-hari.


6. Adab Kepada Guru dan Orang yang Mengajarkan Ilmu

Dalam tradisi Islam, hubungan antara guru dan murid tidak hanya berbicara tentang transfer pengetahuan.

Ada penghormatan.

Ada kerendahan hati.

Ada kesungguhan.

Ada etika ketika bertanya dan berdiskusi.

Seorang murid boleh berbeda pendapat dengan gurunya. Tetapi berbeda pendapat tidak berarti kehilangan adab.

Inilah salah satu persoalan yang penting pada zaman sekarang.

Perbedaan pendapat sering berubah menjadi:

diskusi → perdebatan → saling menghina → saling menjatuhkan.

Padahal orang yang benar-benar berilmu seharusnya mampu mengatakan:

“Saya berbeda pendapat, tetapi saya tetap menghormati Anda.”

Itulah salah satu bentuk kedewasaan intelektual.


7. Adab Lebih Dahulu, Baru Ilmu?

Ungkapan “belajar adab sebelum ilmu” sering digunakan dalam tradisi pendidikan Islam.

Maksudnya bukan bahwa seseorang harus menjadi sempurna akhlaknya sebelum boleh belajar ilmu.

Bukan demikian.

Maksud yang lebih tepat adalah bahwa proses mencari ilmu harus dibangun dengan sikap yang baik.

Misalnya:

Seorang anak belajar matematika.

Ia mendapatkan ilmu bahwa 2 + 2 = 4.

Tetapi di saat yang sama ia juga harus belajar:

  • menghormati guru,

  • mendengarkan ketika orang lain berbicara,

  • tidak mengejek teman yang belum memahami pelajaran,

  • jujur ketika mengerjakan tugas,

  • tidak menyontek.

Jadi, ilmu bertambah dan karakter juga dibangun.


Contoh Sederhana: Orang Berilmu tetapi Tidak Beradab

Misalnya ada dua orang.

Orang pertama

Memiliki pendidikan tinggi, banyak membaca buku, pandai berargumentasi, tetapi ketika berdiskusi selalu menghina lawan bicaranya.

Orang kedua

Pengetahuannya tidak sebanyak orang pertama, tetapi ketika berdiskusi ia mendengarkan, berbicara dengan santun, mengakui jika dirinya keliru, dan tidak merendahkan orang lain.

Siapa yang lebih nyaman diajak belajar?

Tentu orang kedua.

Mengapa?

Karena ilmu bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan manusia dengan pengetahuan yang kita miliki.


Bahkan Ketika Benar, Tetap Harus Beradab

Ini bagian yang sering dilupakan.

Benar tidak otomatis membuat seseorang boleh bersikap kasar.

Seseorang bisa saja memiliki argumentasi yang benar, tetapi menyampaikannya dengan cara yang salah.

Allah SWT berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik...”
QS. An-Nahl: 125

Ayat tersebut memberikan prinsip penting dalam menyampaikan kebenaran: hikmah dan nasihat yang baik.

Artinya, menyampaikan kebenaran tetap membutuhkan cara yang baik.


Adab di Era Media Sosial

Konsep adab semakin penting ketika kehidupan manusia berpindah ke ruang digital.

Hari ini seseorang dapat memberikan komentar hanya dalam beberapa detik.

Satu kalimat bisa viral.

Satu unggahan bisa menghancurkan reputasi seseorang.

Satu tuduhan yang tidak terbukti dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Karena itu, sebelum menekan tombol “kirim”, ada baiknya kita bertanya:

Apakah ini benar?

Apakah ini perlu disampaikan?

Apakah cara menyampaikannya sudah baik?

Apakah perkataan ini akan menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar?

Itulah adab digital.


Cantik Itu Baik, Berilmu Itu Mulia, tetapi Adab Menjadi Penyempurna

Jika dikaitkan dengan filosofi sederhana “A lebih utama daripada B”, bukan berarti beautiful atau ilmu tidak penting.

Keindahan itu baik.

Ilmu itu penting.

Tetapi keduanya akan jauh lebih bernilai jika dibarengi dengan adab.

Orang cantik dengan adab akan terlihat semakin mulia.

Orang pintar dengan adab akan lebih dihormati.

Orang kaya dengan adab akan lebih bermanfaat.

Orang berkuasa dengan adab akan lebih dicintai.

Dan orang berilmu dengan adab akan lebih besar peluangnya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.


Ajakan: Mari Belajar Ilmu Sekaligus Memperbaiki Adab

Kita hidup di zaman ketika orang berlomba menunjukkan siapa yang paling pintar, paling benar, paling hebat, paling kaya, paling cantik, dan paling berpengaruh.

Namun ada satu perlombaan yang sering terlupakan:

Siapa yang paling baik akhlaknya?

Tidak ada gunanya memiliki ribuan pengetahuan jika satu ilmu pun tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

Tidak ada gunanya memiliki banyak gelar jika kita kehilangan rasa hormat kepada orang tua.

Tidak ada gunanya pandai berdebat jika setiap perbedaan berakhir dengan permusuhan.

Dan tidak ada gunanya merasa paling benar jika cara kita menyampaikan kebenaran justru melukai orang lain.

Mari belajar ilmu.

Mari memperbaiki adab.

Mari memperindah akhlak.

Sebab tujuan ilmu bukan sekadar membuat kita lebih tahu, tetapi semestinya membuat kita lebih bijaksana, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad; makna hadis ini populer dalam literatur dakwah, dengan kualitas riwayat yang perlu diperhatikan ketika dijadikan dasar hukum.)

Penutup

A bukan sekadar huruf pertama.

Dalam sebuah refleksi kehidupan, A dapat kita jadikan pengingat tentang Adab: sesuatu yang seharusnya mendahului kesombongan, menemani ilmu, dan menghiasi keindahan diri.

Beautiful membuat seseorang enak dipandang.
Ilmu membuat seseorang berpengetahuan.
Tetapi adab membuat seseorang layak dihormati.

Mari jadikan ilmu sebagai cahaya dan adab sebagai jalannya.


Artikel

Title: Adab Lebih Utama daripada Ilmu? Ini Penjelasan dan Dalil Al-Qur'an

Focus Keyword: Adab lebih utama daripada ilmu

Meta Description: Mengapa adab lebih utama daripada ilmu? Simak penjelasan lengkap, contoh kehidupan, serta dalil Al-Qur'an tentang pentingnya adab dan akhlak dalam kehidupan.

Slug: adab-lebih-utama-daripada-ilmu-dalil-alquran

Kata kunci : adab lebih utama daripada ilmu, adab sebelum ilmu, pentingnya adab, adab dalam Islam, akhlak dalam Islam, dalil adab dalam Al-Quran, keutamaan adab, ilmu tanpa adab, adab kepada guru, adab kepada orang tua, pendidikan Islam, akhlak mulia.

Posting Komentar untuk "Kenapa Huruf “A” Lebih Utama dari “B”? Filosofi Adab di Atas Beautiful dan Ilmu"

Admin
Selamat datang di Arsyafin Production, silahkan kirimkan detail kebutuhan Anda?