Kalau Beramal Saja Harus Selfie, Kenapa Tidak Sekalian Pasang Iklan? Renungan Islam tentang Keikhlasan, Riya, dan Esensi Sedekah

CIREBON – Di era media sosial, hampir setiap aktivitas dapat dengan mudah dibagikan kepada publik. Mulai dari perjalanan wisata, makanan, hingga kegiatan sosial seperti membagikan sedekah. Namun, muncul sebuah sindiran yang ramai diperbincangkan:

"Kalau beramal saja harus selfie, kenapa tidak sekalian pasang iklan?"

Kalimat tersebut bukan bertujuan menghakimi seseorang, melainkan menjadi pengingat (self reminder) agar setiap muslim kembali mengevaluasi niat ketika berbuat kebaikan.

Dalam ajaran Islam, keikhlasan merupakan ruh dari setiap amal ibadah. Amal yang terlihat besar di mata manusia bisa kehilangan nilainya di sisi Allah SWT apabila dicampuri keinginan memperoleh pujian atau pengakuan.


Keikhlasan Adalah Pondasi Amal

Islam mengajarkan bahwa setiap amal bergantung pada niat pelakunya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, ketika seseorang bersedekah, membantu orang lain, atau melakukan ibadah lainnya, yang paling utama bukanlah dokumentasinya, melainkan niat yang tersembunyi di dalam hati.


1. Niat dan Riya: Beramal Diam-Diam Lebih Dekat dengan Keikhlasan

Dalam Islam, sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi memiliki keutamaan yang sangat besar karena lebih mampu menjaga hati dari sifat riya (ingin dipuji manusia).

Allah SWT berfirman:

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu..."

(QS. Al-Baqarah: 271)

Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah yang terang-terangan tetap diperbolehkan dalam kondisi tertentu. Namun Allah menegaskan bahwa menyembunyikannya lebih utama apabila bertujuan menjaga keikhlasan.

Riya termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat menghapus pahala amal.

Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia..."

(QS. Al-Baqarah: 264)


2. Fungsi Syiar: Antara Dakwah dan Pamer

Sebagian orang membagikan aktivitas sedekah dengan alasan ingin mengajak orang lain berbuat baik atau sebagai bentuk syiar Islam.

Prinsip ini memiliki dasar dalam Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa..."

(QS. Al-Ma'idah: 2)

Namun, syiar tetap harus dibarengi dengan keikhlasan.

Batas antara mengajak dan mencari pujian sangat tipis. Karena itu, setiap muslim dianjurkan terus mengoreksi niatnya sebelum mengunggah suatu amal ke media sosial.

Pertanyaan yang patut direnungkan adalah:

  • Apakah unggahan ini benar-benar mengajak orang lain berbuat baik?

  • Ataukah hanya ingin memperoleh pujian, popularitas, atau validasi?

Jawaban atas pertanyaan tersebut hanya diketahui oleh Allah SWT dan pelakunya.


3. Esensi Sedekah Terletak pada Ketulusan

Nilai sebuah sedekah bukan ditentukan oleh besarnya nominal atau banyaknya orang yang mengetahui.

Yang paling utama adalah ketulusan hati dalam membantu sesama.

Allah SWT berfirman:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji..."

(QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah melipatgandakan pahala orang yang berinfak dengan ikhlas.


Tiga Hal yang Dianjurkan Dijaga Kerahasiaannya

Di tengah budaya media sosial, para ulama banyak mengingatkan pentingnya menjaga beberapa urusan pribadi agar hati tetap bersih.

1. Menyimpan Keluhan kepada Allah

Mengeluh kepada Allah merupakan bentuk ibadah.

Nabi Ya'qub AS berkata:

"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku."

(QS. Yusuf: 86)

Ayat ini menjadi teladan agar seorang mukmin lebih banyak mengadu kepada Allah daripada terus-menerus mengeluh kepada manusia.


2. Menjaga Penyakit dan Memohon Kesembuhan kepada Allah

Kesabaran menghadapi sakit merupakan bentuk ibadah.

Allah SWT berfirman:

"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku."

(QS. Asy-Syu'ara: 80)

Ayat ini mengajarkan bahwa kesembuhan sejati datang dari Allah SWT.


3. Menyembunyikan Sedekah

Memberi secara diam-diam lebih menjaga keikhlasan.

Allah SWT berfirman:

"...Jika kamu menyembunyikan sedekah itu dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu..."

(QS. Al-Baqarah: 271)


Self Reminder untuk Pengguna Media Sosial

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat.

Yang menentukan bernilai ibadah atau tidak adalah niat di balik penggunaannya.

Sebelum mengunggah aktivitas kebaikan, renungkan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apakah saya tetap melakukan amal ini jika tidak ada kamera?

  • Apakah saya tetap bersedekah jika tidak ada yang memberi "like" atau komentar?

  • Apakah tujuan utama saya mencari ridha Allah atau pengakuan manusia?

Apabila jawaban pertama lebih dominan, semoga amal tersebut menjadi ibadah yang diterima Allah SWT.


Kesimpulan

Sindiran "Kalau beramal saja harus selfie, kenapa tidak sekalian pasang iklan?" hendaknya dipahami sebagai ajakan untuk kembali memperbaiki niat, bukan sebagai alasan untuk menghakimi orang lain.

Islam mengajarkan bahwa amal terbaik adalah amal yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Dalam kondisi tertentu, memperlihatkan sedekah atau amal dapat dibenarkan, misalnya untuk edukasi, transparansi lembaga, atau mengajak orang lain berbuat baik. Namun, setiap muslim tetap dituntut untuk menjaga hati dari riya, ujub, dan keinginan mencari pujian.

Keikhlasan adalah urusan hati yang hanya Allah SWT mengetahui secara sempurna. Oleh karena itu, yang paling penting adalah terus bermuhasabah dan memperbaiki niat dalam setiap amal.


Disclaimer

Artikel ini bersifat edukatif dan sebagai bahan renungan (muhasabah), bukan untuk menghakimi atau menuduh individu maupun kelompok tertentu. Penilaian terhadap niat seseorang adalah hak Allah SWT semata. Menampilkan dokumentasi kegiatan sedekah, infak, zakat, atau amal sosial tidak otomatis berarti riya, karena bisa jadi dilakukan untuk tujuan syiar, edukasi, transparansi, atau pertanggungjawaban kepada publik. Sebaliknya, amal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi juga tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih suci daripada orang lain. Yang terpenting adalah terus menjaga keikhlasan, memperbaiki niat, serta mengedepankan adab dan husnuzan kepada sesama muslim.

Admin
Selamat datang di Arsyafin Production, silahkan kirimkan detail kebutuhan Anda?