CIREBON – Fenomena flexing atau perilaku gemar memamerkan kekayaan semakin mudah ditemukan, terutama di era media sosial. Mulai dari memamerkan mobil mewah, tas bermerek, liburan mahal, hingga gaya hidup glamor, semua dapat ditampilkan hanya melalui unggahan di Instagram, TikTok, maupun Facebook.
Namun di balik kemewahan yang dipertontonkan, tidak sedikit yang ternyata memiliki kondisi finansial yang jauh dari kata mapan. Bahkan, sebagian rela berutang demi mempertahankan citra sebagai orang sukses.
Dari sudut pandang psikologi, ekonomi, hingga analisis perilaku, fenomena ini menjadi gambaran bagaimana kebutuhan akan pengakuan sosial sering kali lebih dominan dibanding kondisi keuangan yang sebenarnya.
Flexing Berawal dari Kebutuhan Diakui
Dalam kajian psikologi, perilaku sok kaya umumnya bukan sekadar ingin terlihat mewah, melainkan merupakan bentuk kebutuhan memperoleh validasi eksternal.
Orang yang gemar melakukan flexing biasanya ingin memperoleh:
Pujian dari lingkungan.
Pengakuan sebagai orang sukses.
Status sosial yang lebih tinggi.
Perasaan diterima dalam kelompok tertentu.
Pada sebagian kasus, perilaku tersebut juga menjadi mekanisme pertahanan diri untuk menutupi rasa tidak percaya diri (insecurity) terhadap kondisi ekonomi maupun identitas pribadi.
Media Sosial Memperkuat Budaya Pamer
Perkembangan media sosial membuat siapa pun dapat membangun citra yang diinginkan.
Foto bersama mobil mewah, makan di restoran mahal, mengenakan pakaian bermerek hingga liburan ke luar negeri menjadi simbol kesuksesan yang sering dijadikan tolok ukur.
Kondisi ini memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut dianggap tertinggal dibanding orang lain.
Akibatnya, sebagian orang terdorong membeli barang-barang yang sebenarnya berada di luar kemampuan finansialnya hanya demi menjaga penampilan di dunia maya.
Ciri-Ciri Orang yang Sok Kaya (Flexing)
Dari sisi psikologi sosial dan perilaku ekonomi, beberapa karakter yang sering muncul antara lain:
1. Terlalu Sering Memamerkan Kekayaan
Hampir setiap pencapaian atau pembelian baru dipublikasikan.
Mulai dari telepon genggam terbaru, kendaraan, pakaian bermerek hingga aktivitas di tempat mewah menjadi konten utama media sosial mereka.
2. Gaya Hidup Lebih Tinggi dari Penghasilan
Secara ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai lifestyle inflation, yaitu peningkatan gaya hidup yang tidak sebanding dengan kemampuan finansial.
Sebagian bahkan rela menggunakan:
Kartu kredit.
Pinjaman online.
Cicilan konsumtif.
Semata-mata agar tetap terlihat mapan.
3. Terlalu Royal demi Menjaga Gengsi
Mereka cenderung sering mentraktir teman atau menunjukkan kemurahan hati yang sebenarnya berada di luar batas kemampuan.
Tujuannya bukan semata berbagi, melainkan mempertahankan citra sosial.
4. Barang Branded Menjadi Identitas
Tas mewah, sepatu mahal, jam tangan premium, hingga kendaraan mewah dijadikan simbol keberhasilan.
Padahal aset produktif seperti investasi justru sering kali belum dimiliki.
Dampak Ekonomi dari Perilaku Flexing
Pengamat ekonomi menilai budaya flexing memiliki konsekuensi serius terhadap kesehatan keuangan seseorang.
Beberapa dampaknya meliputi:
Terjebak utang konsumtif.
Sulit memiliki dana darurat.
Tidak memiliki investasi jangka panjang.
Rentan mengalami krisis keuangan ketika kehilangan penghasilan.
Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif tanpa perencanaan dapat menghambat proses membangun kekayaan yang sesungguhnya.
Bahasa Tubuh Orang yang Suka Membangun Citra
Dari perspektif analisis bahasa tubuh, individu yang terlalu fokus membangun citra kemewahan kadang menunjukkan pola tertentu, meskipun tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan kondisi finansial seseorang.
Beberapa perilaku yang dapat muncul antara lain:
Sering mengarahkan perhatian orang lain pada barang yang dimiliki.
Berusaha memastikan logo merek terlihat jelas.
Berulang kali menyebut harga barang atau pengalaman mewah.
Mencari respons berupa pujian atau kekaguman dari lawan bicara.
Perilaku tersebut lebih mencerminkan upaya memperoleh pengakuan sosial daripada menjadi indikator pasti tingkat kekayaan.
Lima Perbedaan Orang Kaya Sejati dan Orang yang Hanya Terlihat Kaya
1. Menabung dan Berinvestasi
Orang kaya sejati umumnya memprioritaskan tabungan dan investasi.
Bahkan investor dunia Warren Buffett pernah menekankan pentingnya menyisihkan sebagian penghasilan untuk investasi dan masa depan.
Sebaliknya, orang yang hanya mengejar citra lebih banyak menghabiskan penghasilan untuk konsumsi.
2. Tidak Gemar Membahas Kekayaan
Mereka yang benar-benar mapan biasanya tidak memiliki kebutuhan besar untuk terus membicarakan aset maupun penghasilannya.
Sebaliknya, orang yang melakukan flexing justru sering menjadikan kekayaan sebagai bahan percakapan.
3. Mengutamakan Aset Produktif
Orang kaya lebih memilih:
Investasi.
Pengembangan bisnis.
Properti.
Instrumen keuangan produktif.
Dibanding menghabiskan uang untuk barang konsumtif yang nilainya terus menurun.
4. Berpenampilan Sederhana
Tidak sedikit orang kaya justru tampil sederhana.
Mereka membeli barang berdasarkan fungsi, bukan demi gengsi.
Mobil bekas yang masih layak, pakaian sederhana, serta rumah sesuai kebutuhan sering menjadi pilihan.
5. Gemar Berhemat
Berbeda dengan anggapan umum, banyak keluarga kaya justru memanfaatkan diskon, kupon, atau promosi untuk menghemat pengeluaran.
Prinsip mereka sederhana:
Kekayaan dibangun melalui kebiasaan mengelola uang, bukan sekadar besarnya pendapatan.
Kesuksesan Tidak Selalu Terlihat dari Penampilan
Fenomena flexing menunjukkan bahwa penampilan tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi seseorang.
Di tengah budaya media sosial yang serba visual, masyarakat perlu lebih bijak dalam menilai kesuksesan.
Kekayaan sejati tidak hanya diukur dari barang mewah yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan mengelola keuangan, membangun aset produktif, menjaga kestabilan finansial, serta hidup sesuai kemampuan.
Pada akhirnya, orang yang benar-benar mapan sering kali tidak merasa perlu membuktikan kekayaannya kepada siapa pun. Sebaliknya, mereka lebih fokus membangun masa depan melalui investasi, pengelolaan aset, dan keputusan finansial yang berkelanjutan.
.