Bapa "Aing": Sejarah dan Maknanya dalam Budaya Sunda, Dedi Mulyadi Beri Penjelasan Historis
BANDUNG – Perbincangan mengenai penggunaan kata "aing" dalam bahasa Sunda kembali menjadi perhatian publik setelah muncul penjelasan dari pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun, Panji Gumilang, yang kemudian mendapat tanggapan langsung dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi kepada Panji Gumilang yang telah membuka ruang diskusi mengenai asal-usul kata "aing". Menurutnya, pembahasan tersebut tidak cukup dipahami hanya dari kebiasaan penggunaan sehari-hari, melainkan harus dilihat dari sudut pandang sejarah, budaya, dan perkembangan masyarakat Sunda.
"Hatur nuhun Bapak Panji Gumilang sudah berkomentar tentang aing," ujar Dedi Mulyadi dalam unggahan videonya, Selasa (14/7/2026).
Menurut Dedi, bahasa merupakan identitas budaya yang mengalami perubahan seiring perjalanan sejarah, sehingga pemaknaan suatu kata tidak bisa dilepaskan dari konteks zamannya.
Awal Mula Polemik Kata "Aing"
Perdebatan bermula setelah video Panji Gumilang beredar luas di berbagai platform media sosial.
Dalam video tersebut, Panji menyampaikan pandangannya bahwa masyarakat Sunda saat ini terlalu sering menggunakan kata "aing" sebagai kata ganti orang pertama.
Ia berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari wilayah Banten dan dalam penggunaannya dikenal sebagai bentuk bahasa yang kasar.
Panji juga mencontohkan penggunaan kata tersebut dalam percakapan sehari-hari dan menilai bahwa saat ini istilah tersebut digunakan lebih luas oleh masyarakat Jawa Barat, bahkan dalam situasi yang dianggap lebih santun dibandingkan di daerah asalnya.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai respons dari masyarakat, budayawan, akademisi, hingga warganet yang ikut membahas sejarah perkembangan bahasa Sunda.
Dedi Mulyadi: Kata "Aing" Berasal dari Nilai Kesetaraan
Menanggapi polemik tersebut, Dedi Mulyadi memberikan penjelasan berdasarkan perspektif sejarah Kerajaan Sunda.
Menurutnya, pada masa kerajaan, kata "aing" bukanlah simbol kesombongan maupun bentuk merendahkan orang lain.
Sebaliknya, istilah tersebut mencerminkan nilai kesetaraan antarmanusia dalam kehidupan masyarakat Sunda pada masa lampau.
Dedi menjelaskan bahwa pada masa Kerajaan Sunda belum dikenal sistem kasta maupun pelapisan sosial yang membedakan masyarakat berdasarkan kedudukan.
Karena itu, penggunaan kata "aing" berkembang sebagai bentuk penyebutan diri yang menunjukkan posisi yang setara di antara sesama anggota masyarakat.
Wilayah Kerajaan Sunda Hingga Banten
Dedi juga menjelaskan bahwa wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda pada masa itu membentang hingga kawasan yang kini menjadi Provinsi Banten.
Pusat pemerintahan kerajaan berada di Pakuan, yang saat ini dikenal sebagai wilayah Bogor.
Setelah masuknya pengaruh Islam, sebagian wilayah tersebut berkembang menjadi Kesultanan Banten, yang turut membawa perubahan terhadap perkembangan budaya dan bahasa masyarakat Sunda.
Menurut Dedi, perubahan sejarah tersebut menjadi salah satu faktor yang membentuk ragam penggunaan bahasa Sunda hingga sekarang.
Makna "Bapa Aing" dalam Sejarah Penyebaran Islam
Dalam penjelasannya, Dedi Mulyadi juga mengaitkan penggunaan kata "aing" dengan sejarah penyebaran Islam di Tanah Sunda.
Ia mencontohkan sosok Baing Yusuf, salah seorang tokoh penyebar Islam di wilayah Purwakarta.
Menurut Dedi, nama "Baing" merupakan singkatan dari "Bapak Aing".
Sebutan tersebut menggambarkan hubungan yang dekat antara seorang guru dengan murid-muridnya, yang dibangun atas dasar rasa memiliki dan kebersamaan, bukan berdasarkan sistem kasta ataupun perbedaan status sosial.
Dedi juga menyebut bahwa Baing Yusuf merupakan guru dari Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama besar asal Banten yang kemudian dikenal sebagai salah satu imam di Masjidil Haram, Makkah.
Baginya, fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa istilah "aing" memiliki akar budaya dan nilai sosial yang jauh lebih dalam dibanding sekadar kata ganti orang pertama.
Pengaruh Kerajaan Mataram terhadap Bahasa Sunda
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa sistem Undak Usuk Basa Sunda atau tingkatan bahasa baru berkembang pada periode berikutnya.
Menurutnya, perubahan tersebut terjadi ketika sebagian wilayah Tatar Sunda, khususnya Priangan, berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram.
Masuknya budaya Mataram membawa sistem komunikasi yang mengenal tingkatan bahasa sesuai status sosial maupun lawan bicara.
Dari proses sejarah itulah kemudian berkembang penggunaan bahasa Sunda halus, sedang, hingga kasar yang masih dikenal masyarakat sampai sekarang.
Karena itu, menurut Dedi, perkembangan bahasa Sunda merupakan hasil perjalanan sejarah panjang yang dipengaruhi kerajaan, budaya, serta proses penyebaran agama.
Bahasa Harus Dipahami Secara Menyeluruh
Dedi Mulyadi menilai bahwa perbedaan pendapat mengenai kata "aing" merupakan hal yang wajar selama didasarkan pada kajian sejarah, budaya, dan akademik.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap suatu istilah tanpa memahami latar belakang sejarah yang melingkupinya.
Menurutnya, bahasa adalah bagian dari identitas budaya yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Karena itu, diskusi mengenai asal-usul maupun makna suatu kata sebaiknya menjadi sarana memperluas wawasan masyarakat, bukan memicu perpecahan.
Respons Warganet
Penjelasan Dedi Mulyadi mendapat perhatian luas di media sosial.
Banyak warganet menilai pemaparan tersebut memberikan sudut pandang baru mengenai sejarah bahasa Sunda sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih memahami akar budaya daerahnya.
Diskusi mengenai kata "aing" pun berkembang tidak hanya sebagai perdebatan linguistik, tetapi juga menjadi momentum untuk menggali kembali sejarah, filosofi, dan identitas budaya Sunda yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kata Kunci:
Bapa Aing, Arti Aing dalam Bahasa Sunda, Sejarah Kata Aing, Dedi Mulyadi, Panji Gumilang, Bahasa Sunda, Budaya Sunda, Kerajaan Sunda, Baing Yusuf, Syekh Nawawi Al Bantani, Undak Usuk Basa Sunda, Sejarah Bahasa Sunda, Makna Aing, Filosofi Bahasa Sunda.
.jpeg)