CIREBON – Bahasa daerah di Indonesia memiliki kekayaan makna yang sangat dalam, termasuk bahasa Cirebon yang masih digunakan dalam percakapan sehari-hari masyarakat pesisir Jawa Barat. Salah satu ungkapan yang menarik perhatian dalam khazanah bahasa Cirebon adalah “Kecap Kang Dawa Wedarané”, sebuah frasa yang kerap muncul dalam konteks percakapan budaya dan penjelasan yang bersifat naratif.
Dalam kajian kamus bahasa Cirebon, ungkapan ini menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat lokal menyampaikan makna secara panjang, detail, dan penuh penekanan.
Arti “Kecap Kang Dawa Wedarané” dalam Bahasa Cirebon
Secara harfiah, “Kecap Kang Dawa Wedarané” dapat diartikan sebagai:
“perkataan atau penjelasan yang panjang lebar”
atau
“ucapan yang disampaikan dengan uraian yang panjang dan detail”
Ungkapan ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memberikan penjelasan secara mendalam, tidak singkat, dan cenderung naratif dalam menyampaikan suatu informasi.
Dalam konteks komunikasi masyarakat Cirebon, istilah ini sering memiliki nuansa:
- Penjelasan yang sangat rinci
- Cerita yang panjang
- Uraian yang penuh konteks budaya atau pengalaman
Kecap Kang Dawa Wedarané
Gawir = tanah yang ada ditepi sungai atau tebing.
Pejaratan = Tempat/lokasi pemakaman
Karuhun = Orang tua dahulu leluhur kita
Dombrèt/dongbrèt = Tarian seronok/menggiurkan di wilayah
Indramayu
Damar sèwu = Penerangan/obor dengan bahan bambu bahan
bakarminyak tanah terdiri dari 5 atau 6 obor
berjajar.
Blarak = Daun kelapa kering
Samar-samar = Terlihat kurang jelas
Sukma kuat = Akar pohon pinang/jambe
Sukma jati = Batang pohon pinang/jambe
Sukma rasa = Buah pohon pinang/jambe
Sukma langgeng = Daun pohon pinang/jambe
Sukma yangyang = Bunga pohon pinang/jambe
Godong (suruh)/tepung ros = Daun (sirih) yang gurat didaunnya sejajar semua
disebut juga suruh lanang/sirih laki-laki.
Godong tulak = Daun pisang yang dipotong separuh untuk alas
makanan yang disebut bancakan untuk tolak bala
atau menolak bahaya.
Godong klaras = Daun pisang yang sudah kering benar
Bancakan = Makanan untuk orang/anak-anak dalam acara syukuran atau tolak bala yang berisi: Nasi, Ikan petek, Goreng tempe, Goreng tahu, Urab kangkung, Kerupuk kecil dan tempatnya menggunakan daun pisang(godong tulak ).
Rontal = Ron artinya daun, Tal adalah nama pohonnya, jadi Rontal adalah daun pohon Tal, yang sering disalah artikan daun lontar. Daun Lontar sendiri adalah sejenis daun pohon tal yang ada di Bali masih ada dan daunnya pada jaman dulu digunakan sebagai media tulis.
Berkat = Makanan yang dibagikan setelah ada acara pernikahan khitanan/ memperingati meninggalnya seseorang atau acara lainnya semacam syukuran. Isinya mengandung falsafah dan manfaat bagi kehidupan sehat, seperti: Nasi, Daging, Sayur dage. Makananringannya: pipis, Koci, Bugis, Cikak, Pisang, Peyek kacang, Dadar gulung/opak angin. Isi makanan dan makanan ringannya semuanya 7, mengandung arti kehidupan 7 hari dalam kehidupan.
Lontar = Adalah nama pohon sejenis kelapa yang sering disebut pohon Siwalan. Air dari buah dan nira yang diambil dari tangkai buahnya bermanfaat untuk pengobatan penyakit paru-paru / TBC atau Plek.
Pringgitan = ruang
untuk pergelaran wayang kulit (ringgit )
Srotong = bentuk atap rumah berhubungan lurus
ditengah
Pranti = piranti/alat yang sewaktu-waktu digunakan (piring= pranti mangan )
Seng = seng (jawaban karena tidak dapatmenebak/menjawab tebakan)
Jingjingan/cangkingan = tas (tempat yang bisa terbuat dari bambu/ plastik dan lainnya)
Ngeduk liwet/ngaroni = ngaduk/diaduk nasi yang belum masak diatas perapian (kompor menyala)
Ngacung = mengangkat tangan satu ke atas untuk menyatakan usul/pendapat/mufakat dalam hal tetentu.
Jajan = membeli makanan ringan sebagai nyamikan
Dedengis = mengharapkan diberi dengan raut raut wajah/ muka kasihan atau bicaranya memuji/dikasihani.
Rèmbètan = berdiri terus berjalan berpegangan pada tembok/dinding/pagar/barang disekitarnya.
Nyengir = antara tersenyum dan tertawa karena kesakitan/tidak enak.
Jèmblem/tembem = sebutan kkeadaan pipinya montok/gemuk.
Ngeden = mengeluarkan sekuat tenaga untuk mendorong.
Bebrayan = persaudaraan
Padinan = sehari-hari
Bagongan = ucapan/kata-katanya seperti Bagong yang diceritakan dalam dunia pewayangan.
Sekarat/malangkadak = Tingkah lakunya tidak sopan/etika
Bebrayan/Padinan/Bagongan adalah Bahasa Cirebon yang menggunakan kata/kalimat apa adanya dalam berbicara sesama teman baik yang muda/anak-anak maupun yang sudah tua.
Kekayaan Bahasa Cirebon dalam Ungkapan Tradisional
Bahasa Cirebon merupakan salah satu bahasa daerah yang dipengaruhi oleh campuran budaya Jawa, Sunda, Arab, dan unsur lokal pesisir. Hal ini membuat banyak kosakata dan ungkapan memiliki makna yang tidak hanya literal, tetapi juga filosofis.
Ungkapan seperti “Kecap Kang Dawa Wedarané” menunjukkan bahwa masyarakat Cirebon sangat menghargai:
- Cara penyampaian cerita
- Detail dalam menjelaskan sesuatu
- Tradisi tutur lisan yang kuat
Dalam banyak kasus, ungkapan ini bisa digunakan secara netral maupun bercanda, tergantung konteks percakapan.
Penggunaan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam percakapan masyarakat, frasa ini bisa muncul dalam berbagai situasi, misalnya:
- Saat seseorang terlalu panjang menjelaskan suatu kejadian
- Ketika cerita dianggap bertele-tele tetapi informatif
- Dalam diskusi budaya atau tradisi lisan
Contoh penggunaan:
“Wong kuwi nek crita, kecap kang dawa wedarané, nganti kabeh pada ngerti sedetail-detailé.”
Nilai Budaya di Balik Ungkapan Panjang dalam Bahasa Cirebon
Ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa dalam budaya Cirebon, komunikasi tidak hanya soal singkat atau padat, tetapi juga tentang kedalaman makna dan cara menyampaikan cerita.
Hal ini mencerminkan:
- Tradisi tutur yang kuat di masyarakat pesisir
- Kebiasaan bercerita secara lisan dari generasi ke generasi
- Nilai sosial dalam menghargai penjelasan yang lengkap
Kamus Bahasa Cirebon dan Pelestarian Bahasa Daerah
Di era digital saat ini, dokumentasi seperti kamus bahasa Cirebon menjadi sangat penting untuk menjaga kelestarian bahasa daerah. Ungkapan seperti “Kecap Kang Dawa Wedarané” adalah bagian dari identitas budaya yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Pelestarian bahasa daerah juga berperan dalam:
- Menjaga identitas budaya lokal
- Memperkaya literasi bahasa Indonesia
- Mendukung penelitian linguistik dan antropologi
Kesimpulan
“Kecap Kang Dawa Wedarané” dalam kamus bahasa Cirebon merupakan ungkapan yang menggambarkan penjelasan panjang, detail, dan naratif. Lebih dari sekadar frasa, istilah ini mencerminkan kekayaan budaya tutur masyarakat Cirebon yang penuh makna dan nilai sosial.